Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Bambang Kempling

KALAU BOLEH AKU BERKATA

Inilah penderitaan yang mendera
sejak udara pagi tak bisa menikam keluku.

:rekah jalan berkerikil semakin memperpenat hasrat.

Pekat mendung di langit
menyerahkan seluruh nasibnya kepada bening telaga.
Cahaya senja singgah di antara belukar ganggang
ruang kosong yang hampir tak ada

Runtun kecipak menuntun kepada satu tanya,
“Suara apakah itu?”

Suara itu atau lebih tepatnya suara-suara itu,
merambat ke setiap ruas daun-daun di rerimbun pohon
yang berjajar di sepanjang pinggir telaga.

Dan kehidupan berjungkir di dalamnya.
barangkali juga waktu,

Kalau air mata bisa menggenangi jalan sebagaimana hujan kali itu,
barangkali saat inilah saya bisa mengetahui
bahwa bayangan dari linangan air mata
hadir sebagai saksi kebisuan yang baru saja mulai.
:kengiluan tak terbayangkan menggelombang di bening berkaca-kaca.

Maka,
bila hendak melupakannya,
terasa ada yang menariknya kembali
mengajaknya bermain di kecipaknya
bahkan berenang bersama luka.

Lamongan, 2017



Kesunyian Mengantarmu ...

perjalanan telah dimulai
jauh sebelum petang itu
ketika kesunyian
mengantarmu menjemput mimpi
maka dari balik jendela
kau lukis wajah kota
sempurna dalam temaram
sementara dari buritan gerbong
tampak pilar-pilar stasion menyimpan rahasia dalam gigil

seekor kupu-kupu terbang  mengitari lampu
sebelum akhirnya hinggap di sandaran kursi peron
tempat kau duduk menunggu
sambil menghabiskan berbatang-batang rokok
buat gelisahmu
gelisah menahan bayangan
wajah-wajah yang hendak kau temui

kemudian,
pada malam yang tersibak laju kereta
kudengar irama putaran roda-roda itu
            berderap landai
merajuk dari ihlasmu

telah berulang-ulang
peluit kereta menyentak jalan sepiku
tetapi jalan berkabut terlalu dalam mendekam dalam diri

bila kau pulang
ada yang menitipkan sebutir jelaga kepadaku
di gerbang stasion
ia akan menyapamu.

Desember 2008 



Pejalan yang Sendiri

ruang itu
mentasbihkan jejak yang tersisih
:jauh
dan pilar-pilar renta menggigil dalam asing

ketika lamat-lamat merambat suara-suara
ia hanya mampu melukis bayangan
pada dinding-dinding kamar
pada langit-langit dan tirai jendela
bahkan dalam gelayut pijar warna di kelopak mata
:hilir-mudik wajah-wajah yang dikenal

dunia telah menciptakan sejarah
pejalan yang sendiri

Lamongan, 29 Desember 2017

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Sastra Pesantren