Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Kearifan Budaya Tradisi (Bagian II, Nilai-Nilai Kearifan Lokal)

Tulus S *

B. Nilai-Nilai Kearifan Lokal

Istilah “kearifan lokal” itu terjemahan dari “local genius” dengan arti “kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan tersebut berhubungan (Rosidi, 2010:1).

Pendapat lain dari Ahimsa-Putra (t.t.:5) mendefinisikan kearifan lokal sebagai berikut. perangkat pengetahuan dan praktek-praktek pada suatu komunitas, baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalamanya berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya untuk menyelesaikan secara baik dan benar persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi, yang memiliki kekuatan seperti hukum maupun tidak.

Kearifan Budaya Tradisi (Bagian I, Folklor dalam Masyarakat Jawa)

Tulus S *

Sebuah kenyataan bahwa pengertian kebudayaan beragam dan masing-masing belum tentu  bisa diterima semua pihak sehingga setiap orang kadang bisa memberikan makna menurut selera masing masing. Namun demikian sebenarnya sangat mudah menemukan benang merah yang menghubungkan kebudayaan dalam arti luas, kebudayaan nasional dan kebudyaan Jawa. Ketiganya memiliki status dan role yang berbeda, relative tidak bertentangan tetapi justru saling memberi konstribusi dalam pembangunan karakter bangsa.

AL-QUR’AN, SAINS-PUISI, MIMPI EINSTEIN

Sulaiman Djaya *
sulaimandjayaesai.wordpress.com

Esai singkat, yang sifatnya diaris ini, tentu saja, merupakan tafsir subjektif saya tentang waktu dan dalam keterkaitannya dengan dunia puitis dan sains, yang tentu juga dipandang secara subjektif, dan saya ingin memulainya dengan prosa-puitisnya Alan Lightman yang ia tuangkan dalam buku Mimpi-Mimpi Einstein-nya itu:

Begini Aksi Pelukis Madiun dalam Pameran Tunggal di Jiero

(Dwi Kartika Rahayu, Nurel Javissyarqi, Septi Sutrisna, Rengga AP) Solo Exhibition Rengga AP, “To Take Delight” Jihan Fauziah *
Goresan demi goresan dengan kombinasi warna membentuk karya dua dimensi yang apik, akhirnya keluar dari guanya untuk menemui masyarakat Madiun, tepatnya di Jiero, Jl. Bali No. 17 Madiun. Lukisan-lukisan tersebut sengaja menemui penikmatnya selama tiga hari, sejak dibukanya pameran tertanggal 6 Oktober 2017.

MENOLAK KONON: SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN

Editor: Maman S Mahayana

Guna mengetahui serba sedikit proses penyusunan buku ASPI, berikut saya sertakan semacam Pertanggungjawaban Editor. Silakan dicermati.
“Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik!” Ini bukan konon! Tetapi, begitulah keyakinan Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair terkemuka kita yang hingga kini masih terus berkarya. Maka, kita dapat melihat, esai-esai yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri atau Goenawan Mohamad—sekadar menyebut tiga nama—nyaris selalu hadir dengan penyajian yang mengalir lancar, renyah, dan sedap. Di sana, dalam esai-esai mereka, kalimat, ungkapan atau idiom, bahkan juga kata-kata tertentu kerap begitu trengginas, lincah, gesit, dan kadang kala juga tajam, keras, dan nyelekit, meski dikemas secara metaforis. Hampir selalu ada informasi baru dan ungkapan atau metafora yang segar dan inspiratif dalam esai-esai mereka.

RAJA KASA DAN RATU SOLIHA

Naskah Teater Karya: Rodli TL

ANAK-ANAK BERMAIN MEMBERIKAN GAMBARAN SUASANA PERKAMPUNGAN YANG DAMAI. MEREKA BERMAIN TERBAGI MENJADI TIGA REGU. BERLOMBA MENGAMBIL JEPITAN JEMURAN. PERMAINAN TERUS BERLANGSUNG. SOLIHA DAN BEBERAPA TEMAN LAIN LALU BERNYANYI DAN BERJOGET (PUNYA BANYAK TEMAN).

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com