Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Feminis yang Terluka oleh Komunis

Asarpin
Sastra-indonesia.com

Pada tahun 1987, Partai Komunis Vietnam menyerukan kepada para penulis dan jurnalis untuk menghilangkan kekakuan, gaya formal realisme sosialis yang telah dipaksakan kepada mereka, dan meneguhkan kembali peran mereka sebagai pemegang kontrol sosial. Dalam atmosfir keterbukaan inilah, sebagian sastrawan dan intelektual Vietnam meresponnya dengan beragam karya sastra, film, novel dan teater yang secara terang-terangan mulai melontarkan kritik atas kebijakan partai Komunis.

PPS: Elitisme dan Populisme Budaya

Sartika Dian Nuraini
Solo Pos, 5 Sep 2012

Memaknai peran kultural Putra Putri Solo (PPS) dalam jagat kebudayaan Jawa bisa dilematis. Kebudayaan Jawa selama ini terlalu dipersepsi sebagai kebudayaan adiluhung yang harus dijunjung tinggi, disakralkan dan dipuja sedemikian rupa. Tak boleh ada kritik merongrong apalagi merendahkan kebudayaan adiluhung itu. Posisi ini bisa membuat kebudayaan Jawa bisa ditinggalkan oleh anak muda Jawa yang akan menjadi pendukung masa depan kebudayaan Jawa. Maka, penting untuk memaknai peran budaya PPS yang setiap tahun digelar ini.

Air Mata buaya

Johan Edy Raharjo *
Sastra-indonesia.com

Silau sinar matahari merasuk kedalam kamarku, kehangatannya menarik selimut hingga aku benar-benar merasakan kehangatannya, mataku masih sayu, inginku pejamkan lagi mata ini, namun berontak hatiku melawan, aku duduk diatas ranjang, rasa malas masih menguasai tubuhku, pikiranku melayang, teringat kata pamungkas darinya.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com