Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Puisi Itu Pukulan Bersarung Tinju Beludru

Dorothea Rosa Herliany, Triyanto Triwikromo
http://layar.suaramerdeka.com/

JAWA Tengah wajib bangga memiliki penyair Dorothea Rosa Herliany. Sebab, selain buku puisinya, Santa Rosa, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2005-2006, jauh sebelumnya kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, masuk sebagai lima besar penghargaan paling bergengsi dalam dunia kesusastraan di Indonesia itu pada 2001. Setelah itu, pada 2003 Pusat Bahasa juga memilih dia sebagai pengarang terbaik 2003. Bahkan akhir 2004 Dorothea menerima “anugerah seni” dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Cara Sastra(wan) Empati terhadap Bencana

Jusuf AN*)
http://sastra-indonesia.com/

Serasa masih belum kering air mata negeri ini atas tregedi tsunami yang terjadi Atceh (2004), gempa bumi di Pangandaran (2005), Yogyakarta (2006), Padang (2009). Masih belum tuntas duka warga Sidoarjo dari lumpur Lapindo (sejak 2006) yang menelan rumah dan harta benda mereka. Belum sembuh benar luka-luka negeri ini akibat bencana-bencana yang meluluh lantakkan bumi, menelan harta benda dan menghilangnan ribuan nyawa; dan kini serentetan bencana kembali terjadi secara beriringan; banjir bandang di Wasior (4/10), tsunami di Mentawai (26/10), dan letusan gunung Merapi Yogyakarta yang hingga sekarang masih mendebarkan.

Kerbau dalam peradaban Jawa

Bandung Mawardi
http://www.harianjogja.com/

Kabar telah tersiar dan mengundang tanya. Perawatan dan pengelolaan delapan kerbau bule keturunan Kiai Slamet dialihkan dari Keraton Solo ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Berita ini mengingatkan kita tentang makna kerbau dalam arus peradaban Jawa, masa lalu dan masa sekarang. Kerbau dalam sejarah Jawa menjadi bab penting bagi elite tradisional, petani dan pemerintah kolonial. Kerbau dimaknai dari sakralitas sampai komoditas memakai nalar kapitalistik.

DEWAN KESENIAN DAN PROBLEMATIK SASTRA JATIM

Fahrudin Nasrulloh*
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Dewan kesenian yang eksis di berbagai wilayah di propinsi Jawa Timur memiliki kontribusi sekaligus problem tersendiri. Dari 38 kota dan kabupaten di Jatim kiranya tidak semua wilayah tersebut bercokol lembag dewan kesenian. Kendati Jatim menyimpan 10 subkultur kebudayaan (ditambah 2 kultur budaya Arab dan Cina) yang sangat kaya dan luas.[1] Dewan kesenian terbentuk oleh entitasnya sebagai upaya bagaimana kesenian dipikirkan dan kemudian dikelola, diurus dengan baik. Apakah kesenian memang perlu dilestarikan dan terus ditumbuh-kembangkan oleh semacam lembaga yang semi swasta semi pemerintah ini?

PANCANA, KAMPUNG PENULIS SASTRA TERPANJANG DI DUNIA

Jamrin Abubakar
http://www.kompasiana.com/jamrin_abubakar

MULANYA tidak begitu dikenal dan dianggap biasa saja, namun ketika Seminar Internasional I La Galigo digelar tahun 2002 yang dihadiri sejumlah seniman, budayawan dan peneliti dari berbagai Negara, praktis Desa Pancana begitu terkenal. Terbilang mengejutkan, sebelumnya tak banyak yang tahu kalau desa itu punya latar belakang sejarah dan budaya yang amat menarik. Bahkan merupakan salah satu pusat sastra dunia yang ditulis pujangga asli Bugis.

Kota Bandung dan Peristiwa Seni

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 27 Des 2008

DIGELARNYA acara “100 Tahun Pa Daeng” oleh Serambi Piraous di Gedung Merdeka Jln. Asia-Afrika Bandung, pameran seni rupa “Window Display” karya perupa Wiyoga Nuhardanto di Selasar Sunaryo Art Space, dan pameran seni rupa “Breakthrough” di Studio Jeihan yang menampilkan karya 47 perupa Kota Bandung, merupakan tiga dari sekian kegiatan seni di bulan Desember 2008 di Kota Bandung. Digelarnya acara tersebut diharapkan bisa memberikan makna yang signifikan bagi perkembangan dan pertumbuhan seni di negeri ini.

Penyair-penyair Jawa Timur Terabaikan

Catatan Kecil dari Festival Puisi Internasional
Tjahjono Widarmanto
14 Mei 2002, Kompas Jawa Timur

SEBUAH pesta kebudayaan baru saja lalu. Selama dua minggu, dari tanggal 1-13 April 2002, di tiga kota di Indonesia (Bandung, Surakarta, dan Makassar) digelar sebuah acara baca puisi antarbangsa yang diberi tajuk Festival Puisi Internasional Indonesia 2002. Festival ini melibatkan 45 penyair dari delapan negara, yaitu empat negara Eropa (Jerman, Belanda, Austria, dan Irlandia), tiga negara Asia (Jepang, Malaysia, dan tuan rumah Indonesia), serta satu negara Afrika (Afrika Selatan).

Menulis Puisi Itu Berbahaya!, bincang-bincang dengan Sosiawan Leak

Yudhi Herwibowo, Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Menemui Sosiawan Leak di rumahnya yang menyudut, lengang, karena agak terpencil menciptakan keintiman yang gayeng. Malam telah turun lebih sempurna, beserta Yudhi Herwibowo, saya menemui di lantai atas rumahnya yang bermotif etnik dan lapang. Sebelumnya seorang putrinya menyalami kami dengan takzim, lalu disusul anak laki-lakinya, disertai sapaan senyuman dari istri profil kita kali ini, perempuan berkerudung yang nampak habis sibuk di sebuah ruangan. Keadaan rumah yang bersih tertata rapi dengan anggota keluarga dan perilakunya yang santun lumayan menggeser persepsi awal saya tentang Mas Leak yang lebih sering nampak kusut dan kurang rapi. Begitulah Leak dimana-mana akan selalu apa adanya.

Refrein di Sudut Dam, Puisi D. Zawawi Imron

Abu Salman
http://dunia-awie.blogspot.com/

Dulu, mungkin sekitar delapan atau tujuh tahun yang lalu, saya masih teringat betapa saya merasa seperti membaca sebuah narasi yang memprovokasi batin saya ketika menikmati “Panggil Aku Kartini Saja” nya Pramoedya Ananta Toer (PAT), meskipun bukan sebuah provokasi, hanya batin saya saja yang mudah terpengaruh dan tidak dapat menahan gemuruh dan geram di dada hingga akhirnya seperti terdengar terikan yang tertahan “kejam!!”

Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Jodoh, Rizqi, Mati, iku mung siji, tapi sewu dalane.”

A. Prolog

Kaidah filsafat Jawa di atas, sepintas ndemel terdengar, tapi akan terus menguntit-ngiang di telinga orang yang serius mendalami filsafat dan apalagi jika hendak menjadikan konsep pemikiran dan laku hidup. Coba fikirkan sejenak! Jodoh dimaksutkan untuk menyebut idiom pertemuan dua hal atau lebih yang saling menguntungkan (simbiosis mutualis).

FACEBOOK, MEDIUM INTERAKSI KULTURAL DAN PEMPUBLIKASIAN PUISI

Sri Wintala Achmad
__Mingguan ‘Minggu Pagi’

Tertarik pada persepsi salah seorang kawan tentang produk teknologi internet yang belakangan ini semakin banyak penggunanya. Baginya, arah kegunaan internet sangat tergantung pada penggunanya. Bagi pengguna bermoral jahat, internet cenderung dimanfaatkan untuk memenuhi tujuan kejahatannya, semisal: penyebaran virus, pemasangan situs porno, penyebaran informasi tentang ajaran beraliran sesat yang sangat bertentangan dengan ajaran dari berbagai agama syah di Indonesia.

Cerita Miris ‘Sastrawan’ Muda

A.D. Zubairi
http://www.kompasiana.com/www.kompasiana.com-dardiri

Ada yang mencuri pertemuan kita kali ini, entah pagi entah siang.
Sebelum orang-orang meninggalkan kamp pengungsian,
telah kita sepakati sejumlah rencana untuk menandai setiap jejak dan kenangan.
Sambil mencatat seluruh masa silam untuk dihaturkan
pada jarak usia yang semakin renta.

Agar kita tidak minder

Budiman S. Hartoyo
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEBUAH acara sederhana — tapi cukup penting sebagai usaha memperkenalkan wajah manusia Indonesia — Kamis pekan lalu berlangsung di rumah Adilla dan Soewarno di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Malam itu diperkenalkan terbitnya kumpulan puisi penyair Sapardi Djoko Damono yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn, dengan judul Suddenly the Night. Malam itu juga diperkenalkan berdirinya Yayasan Lontar — penerbit kumpulan puisi itu — yang dibentuk beberapa budayawan pada hari Sumpah Pemuda tahun lalu.

“MALANG RAYA DALAM SASTRA”: LOKALITAS DAN WARNA LOKAL DI TENGAH DINAMIKA GLOBAL

Yusri Fajar
__Pelangi Sastra Malang

Mengidentifikasi, menganalisa dan mencipta karya sastra berwarna lokal dalam dunia global yang dipenuhi hibriditas kultural adalah sebuah kerja interdisipliner (sastra dan budaya) dan kreatif yang menantang. Apalagi jika lokalitas selalu diidentikkan dengan berbagai keunikan suatu daerah. Terlebih lagi jika keunikan itu didasarkan pada aspek-aspek budaya tradisional dan identitas masa lampau. Tidak mudah memetakan warna lokal karena seringkali dalam nilai-nilai lokal terdapat muatan nilai universal dan global.

Identitas dan Tubuh yang Dilepaskan dari Bahasa

Afrizal Malna
http://publiksastra.net/

DUA lembaga pembacaan sastra hingga kini saling tarik-menarik, menghasilkan negosiasi yang tidak mudah untuk melihat wajah sastra Indonesia masa kini. Yang pertama, lembaga kritik sastra. Saya ingin menyebut lembaga ini sebagai “sastra pertama”. Sastra pertama ini awalnya menghasilkan negosiasi yang gesekannya cukup tajam antara politik dan pandangan-pandangan kebudayaan. Terutama pada masa-masa polemik kebudayaan, dan pandangan antara universilisme sastra dengan sosialisme dan kemudian kontekstualisme. Negosiasi ini kini kian mereda dan cenderung menghasilkan sastra mono kultur.

Memupuk Kebangsaan dengan Sastra

Arie MP Tamba
http://www.jurnas.com/

Pada masa awal ‘terbentuknya‘ Indonesia, banyak karya sastra Indonesia yang bisa menjadi saksi bagaimana proses indonesiasi berlangsung. Dengan penuh semangat, dalam segala keterbatasan, para sastrawan masa itu menghasilkan karya mereka berupa buku sederhana, terbitan terbatas, yang kadang beredar dari tangan ke tangan. Dan setelah kemerdekaan tercapai, sebagian besar penulis itu kesulitan menyelamatkan naskah mereka.

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun.

Al-Mu'tashim Billah, Pendiri Kota Samarra

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Ia adalah Muhammad bin Harun Ar-Rasyid. Ia menjabat sebagai khalifah menggantikan saudaranya, Al-Makmun. Dalam literatur sejarah, ia dikenal dengan julukan Al-Mu'tashim Billah (Yang Berlindung kepada Allah). Ia adalah Khalifah Abbasiyah yang pertama kali menghubungkan nama Allah dengan namanya.

Sejak muda Al-Mu'tashim (833-842 M) tergolong seorang militer yang memegang kedisiplinan tinggi. Ia mempunyai tubuh yang kekar dan kuat. Itu juga alasan pendahulunya, Al-Makmun, memindahkan hak khilafah dari putranya kepada saudaranya ini. Apalagi lawan mereka, pihak Byzantium dipimpin oleh seorang ahli militer dan strategi perang.

Macetnya Budaya Keterbukaan (Tanggapan buat Enung Sudrajat)

Tatang Pahat
http://www.kabar-priangan.com/

Hakekatnya peristiwa budaya bertujuan untuk menyeimbangkan kemampuan dalam bentuk kegiatan formal dan non formal dengan maksud pembelajaran tentang stabilitas untuk menuju masyarakat yang bermartabat.

Adanya kegiatan atau even budaya di antaranya mengarah kepada kreatifitas dan inovasi dalam pengembangan bakat dan minat serta pengembangan khasanah kebudayaan yang berkembang di masyarakat.

Quo Vadis Budaya, Tradisi, dan Investasi

Enung Sudrajat
http://www.kabar-priangan.com/

Kebudayaan merupakan eksplorasi manusia dalam menyikapi ruang dan waktu. Sebagai hasil eksplorasi dan proses kreatif, kebudayaan dapat berwujud budaya benda dan budaya tak benda.

Secara sederhana budaya benda biasanya berhubungan dengan teknologi sederhana, dalam memanfaatkaan alam raya untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti alat perkakas rumah tangga,alat pertanian,bangunan cagar budaya dan benda yang dikategorikan purbakala.

MENGGUGAT AKSARA

Muhammad Rain *
http://sastra-indonesia.com/

Salah satu fungsi kritik sastra adalah sebagai bahan tulisan yang memberikan sumbangan pendapat, yang memberikan petunjuk kepada kebanyakan pembaca tentang karya sastra yang baik dan yang tidak baik, yang asli dan yang tidak asli. Untuk selanjutnya bahan tulisan itu dapat dijadikan pertimbangan bagi pengarang tentang karyanya, sehingga pengarang yang memanfaatkan kritik sastra akan dapat mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil karyanya.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com