Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Pengakuan Anggota Waffen-SS (Günter Grass)

Dami N. Toda *
Kompas, 17 Sep 2006

Pengakuan Günter Grass bahwa dahulu dia anggota satuan pasukan elite Waffen-SS Nazi Hitler sungguh mengejutkan. Wajah kekejaman pasukan khusus Hitler SS (Schutzstaffel/regu jaga) dan Waffen-SS (regu tempur) tiba-tiba muncul kembali. Seragam tempur hijau daun zaitun dan hitam dengan leher baju bertanda aksara kembar “SS” Germania kuno, emblem berlambang kepala orang mati di bawah pedang terbelit ular siap memagut.

Terdidik berhati dingin, kejam tanpa ampun di dalam kebanggaan darah ras Arya murni dengan program sistematis membasmi yang disebut Rassich-Minder-Wertiger (warga ras rendah) dan Yahudi. Paling ditakuti, menembak tanpa kecuali anak atau wanita. Bertempur dengan moto: “Kehormatanku berarti Setia” kepada Hitler. Tetapi, mengapa Günter Grass, pemenang hadiah Nobel Sastra 1999, menyembunyikan rasa aib dan mendiamkan rasa malu terhadap kemanusiaan selama 60 tahun?

Peluncuran otobiografi Günter Grass berlangsung 1 September 2006. Tetapi, dua minggu se…

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://sastra-indonesia.com/
Berbicara Tentang Kotamu yang Terlelap

berbicara tentang kotamu yang terlelap aku bangkitkan mayat mayat yang berbaris di lenganmu kesunyian di alismu perlahan bangkit dengan sungai yang lahir melalui wujud menara tapi bulan tumbuuh di rambutmu dan perlahan kawanan pemabuk menyentuhku mencekikku lewat keabadian goa yang terkutuk ribuan cahaya segera aku mati tanpa jasad dan segala kenanganku membentuk planet hijau di otakmu tapi begitulah, imajiku mengagungkan pelacur dan kaum surealis yang beku memaku birahiku persis kutunggui kupu kupu retak di alismu rupanya kesedihanku menggugurkan dedaun dan di ketinggian bulan retak, aku mencungkil matamu dan sayap laba laba yang kudengungkan berubah seseram jenazah seperti mimpiku yang lekas berlalu, begitu pula elang elang yang berdzikir di mulutmu aku kekalkan hari seperti kelak mayatku membiru memuja gairahmu dengan mulutku yang busuk

2007



Kuarungkan 1000 Surealita

jalan jalan angkasa telah mengaburkan
1000 langkahku. …

Puisi-Puisi Indiar Manggara

PENARI DI ATAS KATA-KATA
(kepada dewi)

kali ini aku membisu
terbungkam jarum jam dinding
yang mengetuk setiap detik
seperti kata-kata berlarian meninggalkanku
menari di atas kata-kata.

“wahai penariku, datang dengan amatlah memesona.”

waktu yang semakin menua tersenyum
menidurkanku dalam buai indah tariannya
keringat yang membasahi imajinasi
menjamahi tiap lekuk tubuhnya
dan kubasahi dengan hitam yang elok
tertoreh dalam tariannya

bukan itu. bukan ini. entah apa?
kulukiskan saja seperti itu
pantaslah

teruslah menari di atas kata-kataku.
agar mereka pula terpaku pada detik jam dinding
yang semakin saja menua di tempatnya

15 januari '05



PUSPITA

Tertatih-tatih berjalan di atas langkah peluh
Pencerahan diam mati sepi entah menanti
Kembang sari terang redup-redup terang
Harum menakik dalam tidur pencarianku

Dingin abu-abu tergaris di bawah senyuman
Membaringkan aku di fatamorgana ruang
Di sana-di sini masih saja
Aku dan pencarianku

Sajak bulan telah rapuh terlukis cermin
Menjelma selara-selara tua retak
Tapi na…

Sabda Thok Thok Ugel: Wacana Bencana Nasional

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang membuat Gunawan Maryanto (Penulis dari teater Garasi Yogyakarta) dan Henri Nurcahyo (Esais Surabaya) kesemsem dengan penampilan Teater Tirto Agung? Selama terselenggaranya Dana Hiba Teater Kompetitif 2-6 Januari 2011 di gedung PSBR yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jombang, dua pegiat seni di atas didapuk menjadi juri. Tentu minim untuk disangkal soal keakuratannya dalam menilai sebuah akting pementasan. Saya yakin. Gunawan Maryanto dan Henri Nurcahyo adalah orang yang tengik di bidang perteateran. Tentu sudah mendaur matang dari berbagai cara pandang sebelum memutuskan siapa yang menang dalam kempetisi awal tahun 2011 lalu.

Pada kategori mahasiswa dan umum, yang ditentukan dalam satu paket kemenangan, dewan juri menetapkan teater yang berjuluk Padepokan Tirto Agung sebagai juara satu. Berbeda dengan peteater lain dalam kompetisi lalu, Padepokan Tirto Agung (PTA) yang dipimpin Eko Kriwil, menyuguhkan konsep akulturasi antara te…

Sajak Diberangus, Kebebasan Berekspresi Hilang

Adi Marsiela
Suara Pembaruan, 16 Agust 2007

Penyair Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, dan Alwi membacakan pernyataan sikap dari 21 komunitas seni, jurnalis, dan elemen masyarakat terkait pencabutan sajak ‘Malaikat’ karya Saeful Badar di Kantor Cupu Manik, Bandung, Selasa (14/8). Pencabutan sajak tersebut dari media massa karena ada tekanan dari organisasi tertentu yang menganggap sajak itu melecehkan umat Islam dianggap telah melanggar kebebasan berekspresi yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28.

PRIA yang sudah cukup berumur itu tampak duduk bersila di salah satu pojok perpustakaan Kantor Redaksi Cupu Manik, Bandung, Selasa (14/8). Tulisan “Dilarang Merokok” ternyata tidak mengendurkan semangat teman-teman pria itu merokok sembari berdiskusi. Ketika mendapatkan kesempatan berbicara, pria yang menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak dengan warna biru muda dan abu-abu itu juga tidak banyak membuka mulutnya. Dia hanya sesekali tersenyum menanggapi guyonan yang dilontarkan rekan-rekannya.

“Objek ya…

Menulislah dengan Profesional

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH, pada Kamis kedua, bulan Mei 2011, laman Mata Kata kembali hadir dengan menampilkan sejumlah puisi yang ditulis oleh penyair Riyadhus Shalihin (Bandung), Kiki Padmowiryanto (Bandung), dan Budi Muhammad (Bandung). Ketiga penyair yang tampil kali ini menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam mengolah pengalaman puitiknya.

Sejumlah puisi yang ditulis oleh Riyadhus Shalihin, diakui atau tidak, terasa segar, menarik untuk diapresiasi dan direnungkan makna yang dikandungnya. Larik-larik puisinya kerap membawa ingatan kita pada suasana-suasana puitik tertentu, yang ada kalanya terasa surealistik. Hal ini menunjukkan, bahwa Riyadhus bukan orang baru dalam menulis puisi. Dilihat dari caranya ia menulis, tampak punya jam terbang yang cukup lumayan.

Sementara itu, Kiki dan Budi tampil dengan cara yang lain, walau apa yang diungkapnya itu terasa sederhana, Namun demikian, tentu saja masih ada nilai yang bisa dipetik. Paling tidak, apa…

Di Balik Kemajuan Sastra Indonesia

Yurnaldi
Kompas, 5 Feb 2008

ADA dua peristiwa sastra yang menarik dicermati awal tahun ini, yaitu pemberian Khatulistiwa Literary Award 2006-2007 di Jakarta dan Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari. Terungkap, di samping ada kemajuan, juga ada yang jalan di tempat, bahkan ada yang tak berkembang sama sekali.

Dalam acara penyerahan Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2006-2007, 18 Januari lalu, yang dibicarakan bagaimana karya sastra dari waktu ke waktu mencapai kemajuan, menghasilkan karya berkualitas.

”Sudah tujuh tahun KLA (Khatulistiwa Literary Award) membuka jalan bagi terciptanya landasan kesusastraan yang kokoh. Anugerah tersebut telah membantu para penulis untuk meneruskan karya mereka. Setiap tahun KLA menginspirasi penulis baru dan berbakat untuk menghasilkan karya sastra berkualitas dan mendorong penerbit untuk menemukan penulis baru yang penuh ambisi. Daftar nominasi KLA yang setiap tahun menampilkan nama-nama terkenal maupun belum terkenal membuk…

Puasa di “Lembur” Ahmad Bakri

Deni Ahmad Fajar*
Pikiran Rakyat, 20 Sep 2008

AHMAD Bakri (1917-1988) adalah satu dari sedikit sastrawan Sunda yang produktif. Ahmad Bakri juga tercatat sebagai pengarang Sunda favorit. Humor segar yang dibangun dengan bahasa yang lancar jadi ciri khas karya-karya Ahmad Bakri. Bisa dikatakan tidak ada karya Ahmad Bakri yang luput dari bumbu humor. Tentu humor bukan satu-satunya kekuatan pengarang kelahiran Rancah Ciamis ini.

Yang menarik, Ahmad Bakri juga banyak menulis dengan setting waktu bulan Puasa atau Ramadan. Karya Ahmad Bakri dengan setting seperti itu bisa ditemukan pada “Srangenge Surup Manten” (1968), “Ki Merebot” (1987), “Payung Butut” (1989), dan “Saudagar Batik” (2004). Tentu bukan hanya Ahmad Bakri yang menulis cerita dengan setting bulan Puasa, dan juga banyak ditemukan pada carpon (carita pondok/cerita pendek) Ahmad Bakri. Misalnya, “Bedug ti Nagri Ajrak” dan “Lebaran Poe Jumaah”. Carpon “Lebaran Poe Jumaah” dan tiga carpon lain yang ber-setting bulan Puasa, kemudian dik…

Manunggaling Kawulo-Gusti

Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008

ABDUL Hadi WM pernah melahirkan kumpulan puisi yang begitu pekat diwarnai pemikiran tasawuf Islam. Kumpulan puisi tersebut, Meditasi, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Lalu, bukunya yang juga banyak mendapat perhatian, Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh, melukiskan kecenderungan pemikiran sufistiknya.

Menurut penyair Yonathan Rahardjo, gaya sufistik ini juga disosialisasikan oleh Abdul Hadi WM yang mengembangkan pengaruhnya pada tradisi penulisan puisi 1970-1980an. Ia bersama Kuntowijoyo dengan sastra profetik dan sastra transenden, Emha Ainun Nadjib dengan estetika kaffah, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawen, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawa, serta Wisran Hadi dengan estetika Minang, Taufiq Ismail dengan sajak-sajak sosial-religiusnya — sama-sama mengembangkan estetika sastra yang kemudian dikenal sebagai sastra sufistik.

Pendapat Yonathan ini didukung oleh penyair Akhmad Sekh…

Kura-Kura Kritikus dalam Perahu?

Binhad Nurrohmat*
Media Indonesia, 12 Agu 2007

SAYA dan Taufiq Ismail adalah dua penyair yang memiliki pandangan dan sikap yang berbeda mengenai tubuh dan seksualitas dalam karya-karya sastra pengarang mutakhir kita. Taufiq gencar menistanya dan saya menolak penistaannya dan menghendaki apresiasi yang proporsional-signifikan.

Saya memandang tubuh dan seksualitas dalam kesusastraan kita sebagai kewajaran dan malah memperkaya jamahan tema kesusastraan kita. Dalam kesusastraan, urusan tubuh dan seksualitas bisa sejajar dengan urusan Tuhan, trem yang berklenengan, politik, binatang, agama, maupun gairah asmara. Rendra, Motinggo Busye, Dorothea Rosa Herliany, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, Ahmad Tohari, Goenawan Mohamad, Acep Zamzam Noor, Linus Suryadi AG, dan Wing Kardjo juga menggarap urusan tubuh dan seksualitas dalam karya sastra mereka.

Demikian juga dalam karya sastra tradisional, Babad Tanah Jawa misalnya, ada cerita mengenai Syaikh Maulana Maghribi yang bertafakur di atas p…

Syair, Songket, dan Sungai

Acep Zamzam Noor*
Pikiran Rakyat, 13 Jan 2007

INDONESIA International Poetry Festival 2006 yang berlangsung di Palembang beberapa waktu yang lalu, selain menghadirkan para penyair terkemuka dari sejumlah negara, juga menghadirkan seniman-seniman lokal yang menampilkan sastra tutur. Di wilayah Sumatra Selatan (termasuk Lampung dan Bengkulu) tradisi sastra tutur atau yang lebih kita kenal dengan sebutan sastra lisan terdapat hampir di setiap kabupaten meskipun yang masih benar-benar hidup hanya tinggal di beberapa tempat. Penampilan sastra tutur di arena festival menjadi menarik karena bahasa lokal bersanding dengan bahasa-bahasa internasional seperti Finlandia, Rumania, Italia, Belanda, Jerman, Arab, Turki, Cina, Inggris, yang tentu saja bagi pendengaran saya sama-sama asingnya.

Di panggung, setiap penyair asing tampil membawakan puisi dalam bahasanya masing-masing. Mendengarkan puisi-puisi yang mereka bacakan, bagi saya dan mungkin juga sebagian besar penonton, seperti mendengarkan dukun…

Tiga Usia Jacques Derrida (Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi)

Wawancara Kristine McKenna ini dimuat LA Weekly, 9 April 2003. Diterjemahkan ANTARIKSA

Ketika orang berbicara tentang intelektual Prancis yang gila dan superstar esoteris, ketika mereka tersandung oleh kata dekonstruksionisme di Entertainment Weekly dan bertanya-tanya apa kira-kira artinya, ketika para mahasiswa di seluruh dunia dipaksa untuk memahami apa artinya, seperti yang sudah mereka lakukan selama 20 tahun ini, semuanya mesti dikembalikan kepada Jacques Derrida. Derrida, salah satu figur intelektual paling berpengaruh pada seperembat abad terakhir, adalah Bapak Dekonstruksionisme, sebuah sistem analisis yang kontroversial, yang dirancang untuk membongkar bahasa dan membuka bias dan kesalahan-kesalahan asumsi yang melekat di dalamnya. Berakar pada keyakinan bahwa bahasa memuat hal-hal yang tak bisa atau dihalangi untuk mencapai kesadarannya yang penuh, Dekonstruksionisme merupakan sebuah metodologi lentur yang bisa diterapkan pada tiap-tiap dan semua teks—dan memang, dampaknya pa…

Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji

Hasnan Bachtiar
http://kataitukata.wordpress.com/

Dewasa ini telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para kritikus, seolah bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani suatu mazhab yang mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi mayoritas umat: Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Bukan hal yang mengherankan, penisbatan ini tertuju kepada penyair masyhur itu. Pujangga yang hebat, memiliki puisi-puisi yang sangat baik dan sungguh sulit mencari cela pada anak-anak rohani yang telah tercipta dengan kualitas berkelas, kecuali oleh ketajaman kritikus tulen yang bernyali. Dengan menaruh segala rasa hormat, bahwa tulisan-tulisannya yang hadir dalam kesusastraan Indonesia, barangkali setara dengan pelbagai khazanah tafsir kitab suci yang diagungkan.

Kehebatan SCB terdengar menyeruak di tengah pujangga, kritikus, akademisi, hingga penikmat sastra. Bahkan sangat familier, sehingga begitu dekat dengan pembacanya.

Di tengah gegap gempita bersinarnya sosok SCB, tidak jarang beberapa kalangan me…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com