Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Postmodernisme dan Krisis Identitas Budaya

Urwatul Wustqo
Seputar Indonesia, 09 August 2008

PERKEMBANGAN postmodernisme sering berkaitan dengan wacana-wacana budaya (cultural studies) yang mulai mengarah pada entitas perilaku, termasuk dalam relasi hegemoni.

Hal ini dapat dipahami,mengingat di Barat sendiri, kelahiran postmodernisme tidak lepas dari ruang sosial, yang berdemarkasi, baik dalam interaksi individu, struktur sosial kenegaraan, maupun di ruang publik.

Di Eropa sendiri, postmodernisme dianggap sebagai “the haunt of social science”, yang dapat mengebiri realitas menjadi hiperrealitas, foundationalism menjadi anti-foundationalism, konstruksi menjadi dekonstruksi, history menjadi genealogy, dan sebagainya, yang jika masuk ruang budaya seperti menjungkirbalikkan suatu tradisi. Postmodernisme mengklaim dirinya sebagai perwujudan baru dari modernisasi. Progresivitas pembaruan yang hendak ditawarkannya merupakan antiklimaks dari budaya modernisasi.

Dalam perilaku budaya yang meluas pada wilayah hegemonik,modernisasi dianggap te…

Bre Redana: Rekaan Ingatan

Jean Couteau, Warih Wisatsana *
Kompas, 3 Agus 2008

SESEORANG tengah menyaksikan lakon ketoprak Damarwulan. Pada tempat dan saat yang lain, dalam kisah yang berbeda, terlihat pula sang ”aku” duduk menyendiri di salah satu meja. Di tuturan yang tak terkait cerita di atas, ”aku” yang lain terbangun tiba-tiba di ranjangnya….

Memang, mereka semua adalah tokoh rekaan yang hadir dalam kedua buku kumpulan cerita pendek (cerpen) Bre Redana, baik yang terkini, Rex, maupun yang telah cetak untuk kedua kalinya, Urban Sensation.

Segera terbaca bahwa dalam sebagian besar cerpen tersebut ada sekian tempat ”kunci” yang selalu memicu sang tokoh dan tentu juga pembacanya untuk mengalami ulang berbagai peristiwa yang mencekam ingatannya. Tak pelak lagi ada beragam kesangsian yang lahir sebagai akibat berbaurnya kenangan, impian, serta kekinian yang selalu bermuara pada pertanyaan atau pernyataan berupa ketidakyakinan akan ruang dan waktu, bahkan pada cerita yang disampaikan sendiri oleh tokohnya melalui so…

Tambo Raden Sukmakarto

Dwicipta
Kompas, 2006/05/07

Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto, seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora, mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu.

Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring, seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-ban…

ANAK-ANAK LUMPUR

Haris del Hakim
http://sastra-indonesia.com/

Kami hampir seperti anak-anak lain yang tinggal di kawasan pedesaan. Lumpur bagi kami adalah sahabat paling menyenangkan.

Pada saat kami melihat kubangan air di tanah kering, bekas orang-orang memandikan sapi atau sepeda, kami berebutan untuk mendahului sampai di tempat itu. Yang pertama kali sampai akan mengangkangkan kaki sebagai bukti bahwa dialah penguasa kubangan berlumpur itu dan yang lain akan berebut untuk menggantikan kedudukannya. Kami saling dorong. Jatuh secara bergantian. Teman yang curang tidak mau berdiri setelah jatuh. Dia duduk di kubangan dan melempar-lemparkan lumpur ke arah yang lain, sehingga tidak ada seorang pun yang berpakaian bersih lagi.

Akan tetapi, permainan itu tidak semenyenangkan bila dibandingkan membuat kubangan sendiri. Memperebutkan kubangan menjadikan kami saling bermusuhan satu sama lain, bahkan permusuhan itu berlarut-larut hingga berbulan-bulan dan kami harus kehilangan dua teman akrab gara-gara berebut ku…

Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern

(Apresiasi Atas Buku Leksikon Sastra Riau)
Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

Betapa pun pakar semiotika Roland Barthes (1915-1980) menggemaungkan, “the death of the author,” saya yakin, kita masih sangat percaya bahwa sosok sastrawan (pengarang) tak dapat dengan mudah “terpisah” dengan karyanya.

Dan tentu, kita juga tahu bahwa Roland Barthes memang tidak sedang hendak “memisahkan” keduanya, meski dia menandaskan tentang “matinya seorang pengarang.” Sebab, makna kematian di sini bukan berarti nama si pengarang serta merta terhapus dari karyanya, menjadi anonim nasibnya, akan tetapi ini soal “makna” yang menguar dari teks karyanya itu. Di titik ini, si pengarang tidak lagi punya “kekuatan” untuk menjangkau makna akhir dari (teks) karyanya. Tak ada otoritas tunggal. Begitu sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, dan “tanda-tanda” bertebaran, memproduksi makna-makna baru. Maka, jika begitu, bukankah yang “hidup” dan terus “lahir” adalah para pembaca?

Lalu, apa kabar si…

Zadig, suratan takdir Voltaire (1694-1778) menjajal Leibniz (1646–1716)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/zadig-scripture-destiny-of-voltaire-1694-1778-tested-the-leibniz-1646-1716/

Pengarang ini mungkin awalkali pembentuk alam cerita di kepalaku. Sastrawan produktif berkualitas filosof atas pilihan kata tepat di antara rerongga ruang-waktu takdir telah ditentukan, dalam setiap karyanya.

Tulisan ini, bentuk kegembiraan setelah berpisah sepuluh tahun lebih dengan bukunya “Zadig ou la Destinée.” Diterjemahkan dipengantari Ida Sundari Husen, terbitan Pustaka Jaya, cetakan pertama 1989 bertitel “Suratan Takdir.”

Mulanya kuperoleh di toko buku loakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), tetapi lenyap saat ngontrak di daerah Gedong Kuning Jogjakarta 2001. Kini kubaca ulang, selepas mendapatkan dari kritikus Maman S. Mahayana. Di sini kuucapkan terimakasih, pula pada buku-buku Voltaire yang lain atasnya.

Nama aslinya François-Marie Arouet. Adalah dunia bawah sadar, di tengah pula di atas, ia bangun hikayat Zadig berkesungguhan filsuf, tak lupa menghi…

Percikan Tasawuf dalam Perawan Mencuri Tuhan

Miziansyah J.
Minggu Pagi, Minggu kedua Januari 2006

Dorongan dan minat untuk mengekspos seperangkat puisi sufi ke dalam satu antologi ternyata bukan cuma hura-hura penyair, tapi betul-betul kesucian niat tanpa mengharap pernik-pernik yang bersifat riya.

Begitulah halnya yang terjadi dengan Amien Wangsitalaja, penyair kelahiran Wonogiri, 19 Maret 1972, yang sekarang tinggal di Samarinda, yang telah merampungkan antologi Perawan Mencuri Tuhan (Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2004) yang memuat 73 puisi sufinya. Motivasi Amien memang didasari oleh ketulusan yang ikhlas tanpa pretensi yang profan.

Menulis puisi sufi, bagi setiap yang mampu, adalah suatu keharusan bukan sesuatu yang musykil. Namun, tidak setiap orang mampu melahirkan puisi dengan bobot ilahiyat yang patut. Bila seseorang mengungkap sesuatu tanpa didasari oleh pancaran sikap jujur dan benar, bobot yang dikandung hanya semata hipokrit.

Gambaran kesucian dari sikap penyair dalam Perawan Mencuri Tuhan dapat terlihat, misalnya, pada puisi…

Puisi-Puisi Amien Wangsitalaja

http://sastra-indonesia.com/
Panji Selaten

adil raja karena desanya
lalim raja karena desanya
adil desa karena rajanya
lalim desa karena rajanya

karena itu
raja haruslah menurut mufakat
sekaligus tiang mufakat

begitulah asal sememangnya
walaupun pada nantinya
banyak raja mengarang mufakat
sekaligus membuang mufakat



Awang Long

awang long
ditemani laskar melayu
ditemani pasukan dayak
ditemani laskar bugis
menari
di sungai

“nanda senopati
tahukah engkau hikmah negeri?”

pada coklat air kali
perempuan-perempuan rajin mandi
dan desamu berseri-seri

tapi pada coklatnya juga
engkau tahu
kapal musuh lengkap bertentara

“nanda senopati
tahukah engkau hikmah air kali?”

awang long
di sungai
bukan senopati



Etnofotografi

sekerumun etnik
mengasah pisau
menaikkan panji

dan buku sejarah lapuk berdebu
orang tidak membaca
cara musa menjagal pemuda
dan menggiring gembala
(dengan lidah tidak sempurna
ia berkata: ya bani israila)

sekerumun etnik
mengasah pisau
“kata koran, kawan kami
ditikam orang di jalan raya”

sekerumun etnik
menaikkan panji
“seseorang m…

Pemimpin Belalang di Negara Garuda

UU Hamidy
http://riaupos.co.id/

Di mana tak ada elang, Akulah elang kata belalang Metafor Melayu tiap bahasa punya keistimewaan nya masing-masing. Keistimewaan itu terletak pada sistemnya.

Karena itu dapat dikatakan tidak ada bahasa yang benar-benar sama bentuk dan sifatnya dengan bahasa lain.

Bahasa Inggeris dan Arab sama-sama bahasa fleksi, membedakan jenis kata atas kategori waktu dan jenis kelamin. Tetapi sistem jenis kata bahasa Arab lebih fleksi lagi daripada bahasa Inggeris. Dalam bahasa Arab kebanyakan kata-katanya bertolak dari akar kata.

Tiap akar kata menurunkan sejumlah bentukan kata dengan artinya masing-masing. Dalam bahasa Arab, semua kata benda diberi jenis kelamin. Karena itu ketepatan maknanya sangat tajam. Bahasa Melayu punya keistimewaan dalam lambang dan kiasan, yang keduanya dirangkum dengan kata metafor.

Orang Melayu dapat dikatakan begitu dekat pada alam, sehingga berbagai barang, benda, kerja dan sifat telah dibandingkan dengan kenyataan alam. Akibatnya, ada yang da…

Aceh, PKA, dan UU Hamidy

Herman Rn
http://www.kompasiana.com/pelangi-rn

Kalau ada yang menulis tentang Aceh hingga lebih 50 buah buku, ia adalah UU Hamidy. Lelaki itu lahir Rantau Kuantan, Riau, 17 November 1943. Kendati bukan kelahiran Aceh, ia tahu benar seluk beluk Aceh, terutama bidang sastranya dan terkhusus lagi tentang hikayat-hikayat Aceh. Karena itu, tak salah jika salah seorang ulama sekaligus sastrawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy, menggelari Hamidy sebagai “Orang Aceh yang lahir di Pekanbaru. Menariknya lagi, Hamidy mengawali tulisannya dengan Aceh dan tulisan terakhirnya pun tentang Aceh.

“Bung, saya ini sudah sangat tua, sudah uzur,” kata lelaki tua itu, saat kutanyakan apakah ia akan hadir ke Aceh dalam rangka perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-5, karena saya tahu ia seorang sastrawan berpengaruh di dunia Melayu.

“Pertanyaan Bung mengingatkan saya kembali pada masa-masa saya di Aceh, saat saya meneliti hikayat-hikayat Aceh,” ujarnya. “Rindu dan keinginan untuk dapat menginjakkan kaki kembali ke da…

Andrea Hirata Sastrawan dari Kampung Belitong

Andrea Hirata
Pewawancara : Stevy Widia
http://www.suarapembaruan.com/

Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang mengalami keterbelakangan mental. Semua gembira. Harun, nama anak itu, menyelamatkan SD tersebut. Sekolah pun tak jadi ditutup walau sepanjang beroperasi muridnya cuma 10 orang.

Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu menjadi novel dengan judul Laskar Pelangi (LP) oleh Andrea Hirata, salah satu dari 10 anak itu. Banyak orang memuji novel memoar tersebut karena…

Sastrawan Aceh: Sunyi di Tengah Keramaian

Anung Wendyartaka
Kompas, 19 Juni 2009

KARYA-KARYA besar sering kali dihasilkan dari tempat-tempat yang jauh dari memadai. Tengok saja karya legendaris novel petualangan Old Shatterhand dan sobatnya orang Indian, Winnetou, karya Dr Karl May maupun tetraloginya Pramoedya Ananta Toer yang dihasilkan dari balik jeruji penjara. Masih banyak karya-karya besar dunia lain, terutama sastra, yang dihasilkan dari tempat yang jauh dari fasilitas memadai.

Mungkin hanya kebetulan saja apabila salah satu karya besar dalam dunia sastra di bumi Serambi Mekkah Aceh, yaitu Ensiklopedi Aceh, juga dihasilkan dari sebuah mess yang berbentuk rumah petak ukuran sekitar 3 x 5 meter. Rumah tanpa kamar itu terletak di dalam lingkungan Taman Budaya Aceh di kota Banda Aceh, Provinsi Nanggore Aceh Darussalam. Di tempat inilah, Lesik Keti Ara atau lebih dikenal dengan LK Ara (71), salah satu sastrawan Aceh, ditemani istrinya menyusun karya babon, yakni Ensiklopedi Aceh, dalam 2 tahun terakhir ini.

Di dalam rumah tanpa…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com