Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Korupsi

Korrie Layun Rampan
http://www.suarakarya-online.com/

Teluk Nyomit ditandai oleh tanjung yang tajam di arah kiri mudik setelah sungai membentuk teluk dari potongan sungai mati yang kemudian menciptakan Danau Nyomit. Entah nama ini dicomot dari mana dan bermakna apa, tak ada yang tahu. Tak ada juga yang ingin bertanya. Semua mulut akan menyebutnya Teluk Nyomit, yang ke arah daratannya membentuk sebuah kawasan berhutan belukar yang sekelilingnya merimbun pokok-pokok rotan jahab dan rotan sega milik Kepala Adat Roksobo.

Kepala adat sendiri tak berumah di situ. Karena ia merupakan kepala adat di sebuah kampung yang jauh di Daratan Temula. Ia hanya memiliki kawasan yang didapatnya dari ayahnya yang juga kepala adat. Pada zaman lampau seorang kepala adat setingkat akuwu (raja kecil) di suatu kawasan, memiliki luasan hutan yang berisi rotan, kayu, dan pohon tanyut sebagai tanda kekuasaan.

Pada suatu hari Kinas – tanpa ujung pangkal – berusaha menjelaskan istilah nyomit yang berarti kunyit.

“Menga…

Baju Natal

Kang Warsa
http://www.kompasiana.com/warsa

Satu hari menjelang Natal, Anne masih termenung duduk di atas kursi di beranda rumah. Wanita kecil, berumur 10 Tahun dengan hiasan rambut hitam legam dan panjang itu menatap jalan, kedipan di matanya hanya akan mengingatkan kalian pada seekor kunang-kunang, indah dan hampir saja padam. Pipinya putih bersih, walau bibir agak pecah -belah karena puasa. Anak kecil seperti itu kelak akan mengingatkan kalian pada seorang Oliver Twist, bocah dengan raut wajah kepedihan dan kesedihan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Bocah yang bisa membawa kalian pada alam empati, dimana rasa sakit seakan lusinan paku menusuk dada dan jantung kalian, dan itu bisa dirasakan oleh kalian hanya dengan menatap wajah Anne.

Satu Hari menjelang Natal, Anne masih menunggu, kapan mamanya membelikan dia baju Natal. Padahal anak-anak lain telah membicarakan baju-baju baru di sekolahnya sejak seminggu terakhir ini. Natal tahun ini pasti lebih seru karena orangtua mereka telah…

Bicara Puisi pada Seorang Bayi

Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/

Waktu terasa beringsut seperti siput. Duduk gelisah berganti-ganti posisi di kursi paling pinggir dalam deret ke empat sebelah kanan dibelakang Sopir Bus Patas Trigaya Putra jurusan Surabaya – Semarang diantara orang-orang yang terlelap mereguk mimpi-mimpi indah mereka sambil bersandar dikursi yang memberi kenyamanan perjalanan dengan tersedianya ruang longgar untuk bebas menggerakkan kaki kedepan selonjor atau kebelakang menekuk lutut memasukkan kaki dibawah kursi. Bus melaju seolah-olah tidak memahami betapa rinduku telah membuncah kepadanya. Menelusuri liku-liku jalan Daendles dengan debur ombak yang terkadang terdengar sayup-sayup dikalahkan oleh deru mesin dan remang-remang terlihat dari balik kaca ombak – ombak kecil tak jemu -jemunya menuju ke pantai serta kerlap-kerlip lampu dari kapal-kapal para nelayan terlihat jauh dari pantai memang dapat sedikit menghibur akumulasi kegelisahanku yang beberapa hari ini selalu memikirkannya, memendam per…

BELAJAR DARI ANDREAS HAREFA

Sutejo
Ponorogo Pos

Dengan setengah kelakar, Andreas Harefa menuliskan di belakang namanya dengan tulisan “WTS”. WTS yang satu ini bukanlah akronim dari wanita tuna susila tetapi merupakan kependekan dari writer, trainer, dan speaker. Andrias Harefa, selama ini dikenal sebagai penulis buku yang tak hanya produktif tetapi juga pencetak buku la¬ris.

Menimbang ‘Ketersesatan’ Novel Adam Hawa

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sekali lagi, geliat proses kreatif dalam sastra berbenturan dengan construct teologi Islam. Kali ini cikal soalnya berasal dari novel Adam Hawa karya Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Scripta Manent, 2005) yang tertuduh; melecehkan Qur’an. Sebuah Ormas Islam mengklaim tabiat kepengarangan Muhidin tergolong kategori hirabah (terorisme). Tak dirinci, tindak terorisme macam apa yang telah diperbuat Muhidin. Yang pasti, teks novel itu sesat lagi menyesatkan (entah siapa yang telah disesatkannya). Disebut-sebut, perangai Muhidin dalam novel itu nyaris serupa perilaku menyimpang Salman Rushdie dalam The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Karena itu, perlu diluruskan, dikembalikan ke ‘jalan yang benar’, dan bila perlu dimurtadkan, dikafirkan.

Novel itu mengusung imaji ganjil, tak lazim dan tentu saja ; ‘menyimpang’. Mengobrak-abrik, merubuhkan, mengacau-balaukan pemahaman dogmatis, normatif dan taken for granted menyangkut sejarah penciptaan manus…

SURAT KEPADA GERILYAWAN*

Herry Lamongan
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Satu hal kau benar: besar nyali. Dengan besar nyali itu rasa percaya diri berbiak. Proses kreatif dibangun. Alhasil, puluhan buah karyamu kau bukukan. Kau seleksi kau edit, selanjutnya kau terbitkan dan pasarkan sendiri. Bila Chairil Anwar memilih sesanti sekali berarti sudah itu mati. Kau tidak. Kau seakan berkejaran dengan usia, berkarya demikian banyak, apa pun: puisi, esei, atau sekadar ujaran, kemudian kau lepas ke ruang publik berkitab-kitab, sejak “Takdir Terlalu Dini” hingga yang sekarang ini “Kitab Para Malaikat”.

Umumnya para penulis memulai karir dengan mengirimkan karya ke berbagai media massa. Mungkin kau pun pernah. Sesungguhnya, dengan jatuh bangun, gagal/berhasil lewat media massa itu seorang penulis berkompetisi. Tulisan-tulisannya teruji. Dan hanya penulis bernyali besar yang tahan menghadapi seleksi redaksi media massa. Tampaknya, meski nyalimu pun besar, kau tak mau repot jatuh bangun menempuh jalan publikasi m…

Jejak Asketisme Intelektual

Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/

Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini.

Risalah itu menjadi jalan lain untuk penyadaran bahwa kelahiran intelektual di negeri ini ditentukan oleh orientasi kultural-spiritual. Persemaian intelektual pada abad XX memang ada dalam bayang-bayang kuasa kolonialisme dan globalisasi, tapi masih memberi jalan untuk pilihan pada individu untuk mengafirmasi diri dalam olah kultural dan spiritual. Asketisme merupakan ikhtiar menjadi manusia-intele…

Membongkar Doa — Sebuah Puisi Ragil Supriyatno Samid –

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

DOA

baiknya segera Engkau putuskan
tinggal ataupun pergi
tentu saja sama baiknya sebab

Engkaulah yang terbaik:
sang maha tinggal, maha pergi

(Dari catatan Ragil Sukriwul, facebook 19 Juli 2009 jam 8:19)

Dalam doalah, aku kira, kita menjadi jujur-sejujur-jujurnya. Selain itu, Doa juga upaya memahami diri yang tak dirumuskan berdasar pandangan dari banyak orang, namun berusul dari kebutuhan pribadi. Doa, usaha membongkar dan belajar untuk berani menghadapi apa yang selama ini ditakuti. Petanda yang memperlakukan secara jujur getar konkrit yang mengalir sebagai kefanaan. Dari itulah, aku kira kemudian, doa bukan usaha membaca Tuhan, apalagi menterjemahkannya. Tapi sekadar belajar mengeja diri. Dan apapun macam ragam kata-kata dalam doa –seperti puisi “DOA” yang ditulis Ragil itu misalnya– lahir dari kebutuhan pribadi yang tak bisa disalahkan sebab tiap doa punya mohonnya masing-masing.

Dalam puisi “Doa” itu, aku lirik memohon begini: “Baiknya segera e…

Izroil dan Bunda Malin (klarifikasi dongeng Malin Kundang)

Muhammad Zuriat Fadil
http://sastra-indonesia.com/

And I have to be sure
When I walk out the door
O ,How I wont to break free…
(I Want to Break Free, Queen)

Hari itu Izroil sedang mendapat tugas berat, yakni mencabut nyawa seorang ibu yang dulu pernah mengutuk anaknya menjadi batu. Setelah menyelesaikan tugasnya di beberapa tempat dan waktu yang berbeda, Izroil pun kembali melesat dengan kecepatan cahaya membelah ruang menembus zaman, menuju kediaman Bunda Malin. Ibu itu rupanya sedang termenung dalam lamunan ketika Izroil sampai di depan pintu kamarnya.

Lima tahun telah berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang menggemparkan para malaikat ruhaniyyun di atas sana dan para manusia setempat. Seorang ibu yang mengutuk anaknya menjadi batu, tentulah sorang ibu mulia yang diberi karomah oleh sang pemilik segala kesaktian. Inilah yang membuat Izroil sedikit nervous menjalankan perintah itu. Kalau hanya sekedar jendral, presiden, raja, kiai, ulama, pendeta, para pejabat, pengusaha, rektor…

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Memandangmu dari Sisi Benakku

melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka

engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi

tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati

Semarang, 20 November 2010



Bacalah

“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca…

Puisi-Puisi Eka Budianta

http://www.suarakarya-online.com/
Kenangan Pramoedya
(6 Februari 1925 – 30 April 2006)

Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa
Para korban kebodohan yang terlupa

Tetapi ketika kautulis kebenaran
Kamu dijebloskan ke penjara
Buku-buku dan pembacamu teraniaya

Akan kukenang Pramoedya
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku
Yang tidak sanggup memahami & mencintaimu

Di langit hatiku hujan telah reda
Tinggal namamu tertulis dan bersinar
Menagih cintaku pada bumi manusia

(2006)



Perjalanan Sungai

(1)
Sungai yang dulu menangis
Di antara batu-batu di pegunungan
Sekarang telah sampai di kota
Dan akan terus menuju ke laut

Tak lagi terdengar derai air terjun
Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga
Telah berganti panas terik dan polusi
Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati

Tapi aku terus mengalir
Menyilakan kapal-kapal berbeban berat
Masuk dari muara
Menyambut hangat hempasan ombak dunia

(2)
Sungai-sungai kecil, sungai-sungai besar
Bergelora dalam hidup singkat ini
Pegunungan dan air terjun memangg…

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi

http://www.kr.co.id/24 May 2003
MARI MENYANYI

mari bernyanyi
di antara langit dan bumi
tembang cinta yang terlupa
yang menjadi candu
ketika gigil rembulan
mengurai air mata

mari bernyanyi
bersama mahatma gandhi
ahimsa yang terluka
di bukit senja

krapyak, 03



AHIMSA
* in memoriam mahatma gandhi

ia berjalan, memutar
di tengah-tengah palagan
dalam genggamannya
ahimsa berkibar senantan
redam letusan dua senapan
dari peluru-peluru berdesing
menembus dada sena yang sifir
terduang oleh tahta yang rangah

ia bersimbah darah
namun, ahimsa tegak menancap bumi
kibar bersama angin
bernafas dalam sukma
meski nafsu serakah menyiapkan
air sembilan kematiannya
selamanya

krapyak, 03



DIKEBIRI

kita telah dikebiri
bayang tak dikenal
menikam setiap gerak
detik demi detik
dan sepanjang itu
kelahiran bayi yang suci, murni
tak akan pernah terjadi
di atas bumi

kita telah dikebiri
tapi,
waktu ingin berputar kembali
agar bayi yang suci, murni
terlahir di atas bumi

krapyak, 03

Kenapa Albert Camus Absurd?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=636

Dalam bukunya “The Rebel” yang diindonesiakan Max Arifin, terbitan Bentang 2000. Di sana aku membaca pendapatnya: “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menolak untuk menjadi dirinya.”

Bagiku, ia sosok pelancong jauh yang tidak mudah dikibulin para pengembara sebelumnya. Jika boleh menentukan faham, merupakan jajaran sastrawan kelas wahid. Di hadapannya; filsuf, sejarawan juga kaum pelaku total menghidupi nafas kesusastraan, yang tak sekadar berindah-indah dalam penciptaan karya.

Mengkonstruksi ulang faham Hegel, menyelamatkan cinta butanya Karl Marx pada masyarakat tertindas. Mengekang gerak awan merah surealis, agar selepas jalannya revolusi, tidak menambah runyam mendirikan bentuk-bentuk kediktatoran anyar lebih anarkis. Menyadari nihilisme juga sanggup, tepatnya memiliki hasrat perusak yang punya sifat kekejaman serupa.

Camus dengan jiwa “tergopoh,” ingin menempatkan kaki-kakinya di lahan sejarah yang diyakininya sebagai fitroh ala…

Seorang Odysseus dari Solo [Halim H.D.]

http://majalah.tempointeraktif.com/

SUATU pagi di Surakarta, 1995. Seorang lelaki yang berpenampilan sederhana bergegas menemui beberapa kawannya. Ia menitipkan sepotong pesan, “Kalau terjadi sesuatu, tolong cek keberadaan saya di kejaksaan.” Sesudah teman-temannya paham, ia buru-buru pergi kantor kejaksaan di daerah Kepatihan, Solo. Di sana ia mesti menjelaskan kiriman lewat pos yang diterimanya, beberapa jurnal kesenian dari Amerika dan Eropa.

Lelaki berkacamata minus ini me-mang kerap menghadapi panggilan aparat. Selain dari kejaksaan, ia kerap mendapat “undangan” dari komando rayon militer (koramil) dan komando distrik militer (kodim). Hanya, saat ia menghadapi panggilan kejaksaan kali ini, teman-temannya tak perlu cemas terlalu lama karena ia akhirnya pulang dengan selamat.

Halim H.D., nama orang itu, bukan-lah seorang aktivis politik. Dia hidup dari dunia kesenian meski bukan seorang seniman. Lelaki berusia 52 tahun ini memiliki peran yang cukup penting dalam pengembangan seni di n…

Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan.

Rendra dan yang lain-lain telah berhasil membujuk para mahasiswa (di pimpin Arief Budiman) untuk mundur saja, dan sebagai ganti menawarkan diri untuk melakukan semadi dan tirakatan di tempat yang telah ditetapkan.

Fihak penguasa agaknya menyangka Rendra dkk sebagai demonstran yang bandel, dan ia ditahan 20 jam. Walaupun dalam interogasi yang dilakukan malam itu seorang tahanan menamakan tindakan mereka sebagai “tumbal” buat mencegah terjadinya bentrokan antara mahasiswa dan tentara, sedikit sekali difahami motif Rendra dkk malam itu.

Dalam suasana bertentangan, orang yang tak mengabungkan diri memang sering sulit direnger…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com