Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Bagaimana Memotivasi Diri untuk Terus Menulis?

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

JUDUL tulisan ini, adalah juga pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang penulis pemula yang mengirimkan karyanya ke Xpresi. Agaknya sobat kita ini sedang merasa stagnasi dalam menulis. Atau tiba-tiba merasa bahwa proses kreatif menulis yang dia jalani tidak “memberikan apapun” padanya. Atau, karena sebab-sebab yang lain, sehingga ia “malas” untuk kembali menulis.

Adik-adik, ini namanya penyakit. Dan penyakit sejenis ini, memang kerap menjangkiti banyak penulis kita, terutama mereka yang belum “mantap” pilihan hidupnya untuk menjadi seorang penulis. Tentu, penulis pemula adalah sasaran empuk penyakit ini. Tapi, tak sedikit pula, para penulis “yang sudah jadi” berguguran, berhenti menulis.

Saya kira, tiap penyakit tentu ada obatnya. Namun sebelum kita mencari obatnya, kita harus tahu dulu indikasi-indikasi yang menyebabkan seorang penulis kehilangan motivasi untuk menulis, dan memilih untuk berpaling. Indikasi itu bisa kita lacak dari berbagai sisi.…

Sebias Cerah di Kampung Warna

Agus B. Harianto
http://www.sastra-indonesia.com/

Kampung Warna telah terukir dalam black list kepolisian setempat. Setiap intel seringkali mendapati Kartu Tanda Penduduk yang terselip dalam saku celana tahanannya menunjuk alamat kampung itu. Hingga guyonan tersendiri merebak di gedung pemerintah tersebut. Yang lebih menggembirakan lagi, mereka dapat langsung mengarahkan pencarian kala tindak kriminal terjadi di sekitar Surabaya Selatan. Sebagian besar dari penghuni penginapan mereka adalah warga kampung itu.

Berbalik fakta dalam Kampung Warna. Walaupun, kesedihan melanda janda-janda sementara, kesombongan semu tertelan waktu singkat, mengalun syahdu di sela-sela percakapan. Sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar penduduk Kampung Warna merupakan residivis kambuhan. Hampir setiap warga merasakan kesenangan tersendiri dengan julukan yang terberi. Akibat yang timbul, kampung itu ditakuti warga kampung lain. Mereka tak pernah perduli dengan anggapan orang lain, tetap melangkah pada keteg…

Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang?

Binhad Nurrohmat
http://cetak.kompas.com/

Ada ungkapan dalam khazanah tradisi Jawa: sugih tanpa banda (kaya tanpa harta). Rasa ungkapan itu ”non-materialistik” dan kontradiktif sebab makna umum ”kaya” identik dengan ”harta”. Ungkapan bervisi etika itu bagi common-sense modern bisa dianggap cuma pelipur kemelaratan atau dalih ”romantisme kemiskinan”. Dalam konteks sejenis, ada ungkapan lain dalam khazanah tradisi kita yang dianggap ”realistik” bagi nalar modern lantaran bervisi pragmatis: kalau ada uang di pinggang, dunia sempit menjadi lapang.

Aristoteles dalam La Politica menilai, sejak ditemukan uang, manusia mengenal perniagaan eceran (ritel). Sebelumnya manusia memenuhi kebutuhan hidup melalui tukar-menukar barang (barter).

Ihwal uang semula sederhana dan menjadi rumit setelah manusia belajar kapan dan dengan apa pertukaran dengan uang dilakukan bisa meraup laba. Akibatnya, uang dianggap paling penting untuk meraih kekayaan. Sejak itu pula bersemi ”nafsu” mengakumulasi. Dalam pandanga…

Uang, Modernitas, dan Tafsir Sastra

Bandung Mawardi*
http://cetak.kompas.com/

Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi. Uang sebagai juru bicara membuat manusia menerima mekanisme atau prosedur hidup dalam perhitungan angka untuk mencapai makna. Angka jadi penentu, tetapi makna kadang hadir dalam kesamaran.

Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah…

SASTRA KONTEKSTUAL

Saut Situmorang
http://sautsitumorang.multiply.com/

Polemik atas apa yang disebut sebagai “sastra kontekstual” di media massa terbitan pulau Jawa di pertengahan tahun 1980an bisa dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang (berpretensi) mempersoalkan isu tradisi dan bakat individu dalam sastra Indonesia. Arief Budiman dan Ariel Heryanto, kedua tokoh utama yang gencar mempropagandakan apa yang oleh Ariel Heryanto disebut sebagai “sastra kontekstual” tersebut, yakin bahwa tradisi “bersastra” dalam sastra Indonesia, yang mereka klaim sebagai tradisi “sastra universal” itu, merupakan tradisi yang “tidak berakar” dalam realitas kehidupan Indonesia, “kebarat-baratan”, makanya “teralienasi”, “menjadi asing di negerinya sendiri” (lihat buku Perdebatan Sastra Kontekstual, 1985, susunan Ariel Heryanto). Apa yang jadi masalah dalam sastra Indonesia, menurut Arief Budiman, misalnya, adalah “kenyataan” bahwa “sastra Indonesia tidak akrab dengan publiknya. Atau lebih tepat, publiknya adalah kritikus-krit…

Memahami Jarak dan Aroma Ajal

Taufiq Ismail
http://www.gatra.com/

HAMID Jabbar, 55 tahun, wafat ketika sedang baca puisi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), Ciputat, Sabtu malam, 23.00, 29 Mei 2004, di depan mahasiswa, dosen, dan tamu yang memadati aula dalam acara dies natalis perguruan tinggi itu. Dua larik puisi terbarunya itu dibaca dari layar Communicator 9210i, berbunyi: Walaupun Indonesia menangis/ mari kita tetap menyanyi//

Besoknya, Abdurrahman Faiz menulis puisi berjudul “Berpuisi Sampai Mati”, mengenang kejadian itu. Faiz, berumur 8 tahun, murid kelas II baru naik ke kelas III SD. Sebaya cucu Hamid, Faiz (mungkin) penyair termuda di Indonesia, yang sudah menerbitkan buku puisinya, Untuk Bunda dan Dunia (Januari 2004), dan buku keduanya akan terbit pula akhir tahun ini.

// Malam itu/ di atas sebuah panggung/ dengan ratusan penonton di hadapan/
kau bacakan puisi terakhir/ lalu kau tiba-tiba rebah/ sambil tersenyum/
orang ramai/ bertepuk tangan menyoraki/ tapi kau tak bangun lagi/ tak
akan pern…

Ular Betina

Teguh Winarsho AS
http://www.sinarharapan.co.id/

Malam pucat di mata Tamin seperti selembar kertas kusam. Jidatnya berleleran keringat, tampak licin berkilat. Pandangan matanya remang, kabur, seperti dilingkupi kabut tebal. Tamin menggosok-gosok matanya dengan ujung jarinya yang berkuku panjang. Ada rasa perih menusuk. Juga kantuk yang masih mengutuk. Tapi Tamin tak mungkin bisa tidur lagi. Tamin akan melek sampai pagi bahkan siang hari. Sebab mimpi buruk itu pasti akan mengendap-endap mendatangi tidurnya begitu ia berhasil mengatupkan kelopak mata dan merapatkan selimut ke sekujur tubuhnya.
Begitulah, tengah malam Tamin selalu terbangun oleh mimpi buruk ketika sorenya habis bercinta dengan Linda, istrinya. Selalu begitu setiap malam hingga membuat Tamin bosan. Sejak itu Tamin tak pernah bisa tidur lagi meski matanya ia katupkan rapat-rapat. Meski lampu kamar ia padamkan dan selimut ia bentangkan menutup ke sekujur tubuhnya.
Bayangan mimpi buruk itu terus berkelebat-kelebat dalam batok ke…

Cincin Kawin

Danarto
http://www.jawapos.co.id/

Ketika ibu mendapatkan cincin kawinnya berada di dalam perut ikan yang sedang dimakannya, seketika ibu terkulai di meja makan, pingsan. Lalu koma sekitar satu minggu, kemudian ibu meninggal dunia. Sejak saat itu sejarah hidup keluarga kami diputar ulang. Seperti digelar di kamar keluarga, juga di pekarangan belakang rumah, hari demi hari diperlihatkan malaikat betapa cara kerja langit tak mempunyai patokan. Tak dapat ditebak. Tak terduga. Dalam mengarungi pemandangan yang terbentang di hadapan, kami tak tahu benar apakah itu pemandangan alam atau lukisan pemandangan alam di atas kanvas.

Kami juga sering turun dari kendaraan umum lalu beramai-ramai menambal aspal jalan yang mengelupas. Atau mendorong bus kami yang terjerembab banjir. Pemandangan indah, pemandangan suram, semua disajikan kepada kami.

Kami harus jujur, kami sekeluarga bukan kumpulan orang-orang baik tapi kami mematuhi rambu-rambu lalu-lintas. Hidup kami baik-baik saja sampai gempa yang berke…

Selina Gita

Hamsad Rangkuti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

“SETIAP abang berada di tengah hutan, abang selalu ingat dialog awal percakapan Rafi dengan anaknya dalam sebuah film. Abang dipercayakan memegang peran sebagai Rafi dalam film ’Promise Land’ karya Holga Martina Straubinger dan Lisa Hodsoll. Film semi dokumenter itu disutradarai Andreas Pascal. Misalnya, dalam perjalanan kita menyusuri rimba lebat ini, dialog itu datang pada abang dan abang bisa mengulang omongan itu, tapi abang lupa nama peran anak lawan ngomong abang dalam film itu.”

“Anak itu lelaki atau perempuan?” tanya Yon Adlis yang menjemput kami.

“Kalau jenis kelaminnya abang selalu ingat, perempuan.”

“Ya, sudah, pakai saja nama Selina Gita.”

“Selina? Nama siapa itu? Dari mana kau punya ide memberi nama itu?”

“Tak abang lihat foto yang terpampang di sepanjang jalan dari Bandara Jambi Sultan Thaha hingga perjalanan kita sudah sampai di sini. Dia itu anak mantan Bupati Bungo memajang foto mempersiapkan diri jadi calon anggota DPR-RI…

Tentang Cerpen Nirwan

Ribut Wijoto
http://www.sastra-indonesia.com/

Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen.

Ini kesalahan fatal. Soalnya, ini kesalahan dilakukan oleh orang-orang yang justru berkompeten di bidang kesusastraan. Lebih fatal lagi, ini kesalahan diikuti oleh beragam kaum sastrawan. Ia menjadi standar nilai cerpen. Sebuah standar nilai yang membalik arah.

Lihatlah kutipan cerpen “Dadu” dari Nirwan Dewanto: Bertahun-tahun kami bertikai apakah di negeri Matsya Sairindri dan lima pengiringnya itu penyamar atau bukan. Bertikai pangkai bahkan sampai kini, ketika kami harus bahu-membahu di pulau jahanam ini demi mengukai tilas Muka Sepuluh.

Nirwan membuka kisah dalam cerpen dengan kata-kata “wah”. Ka…

Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional*

Satmoko Budi Santoso
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/

DALAM rentang waktu mulai tahun 2000-an, kesusastraan Indonesia yang diharapkan mampu “tinggal landas” berkaitan dengan momentum pasar bebas, rasanya kurang begitu menunjukkan hasil. Dalam konteks ini adalah kesusastraan Indonesia yang mampu unjuk sampai ke level internasional. Oleh karena itu, eksistensi sastra Indonesia memang masih harus belajar keras agar mampu menembus ke level diplomasi sastra tingkat internasional. Kebanyakan, kalaupun ada sejumlah sastrawan yang mampu menembus pasar internasional, itu tidak lebih karena upayanya sendiri dalam berjejaring dengan orang atau komunitas atau juga lembaga yang memang memunyai komitmen sama dalam mengembangkan diplomasi sastra menjadi lebih baik lagi.

Tentu, dalam persoalan semacam ini perlu kepedulian berupa kebijakan dari negara yang berusaha mendudukkan karya sastra sehingga memunyai peluang yang sama dengan bidang disiplin ilmu lain yang lebih memunyai kesempatan mempert…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com