Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

RONTAAN TANAH IBU

Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/

*** Surat surat luapan keluh

Ayah..Bunda..kalian tau gak! Sekarang aku bagaimana?, dan ada di mana? Dalam kembara rantauku, jauuuh sekali. Mengelanai ruang-ruang hampa. Ahirnya aku sampai di suatu tempat yang tak bernama. Tempat ini sunyi, pengap, pekat, sesak, berdinding plasma yang buntu, tak bercerca, tak berjendela. Berjuta tahun aku disini sendirian. Sepi..Ayah..aku takut.! Kian hari kian mencekam Bunda..!

Tak hanya tak bernama Ayah..tapi juga tak berwarna Bunda..! Seluruh hamparan tampak sringkah, kuning kemerah-merahan. Dan jika dipandangi terus, risauku kian geram, galauku numpuk berjubel berbebal-bebal. Judegku tak kunjung berujung. Ruangan ini kadar udaranya, nol koma sekian persen saja. Sesak, sengal. Nafasku sejengkal-jengkal. Hanya sebintik air dari titik nisbi uap yang mencair.

Ini bukan negeri Stepa atau Sabana, yang masih tumbuhkan kaktus dan lumut. Segala sesuatu ada disini, cuma tak bisa dijamah. Anak-anak sejawatku memang …

Pembantu Bintang Lima

A Rodhi Murtadho
http://www.sastra-indonesia.com/

Pembantu bintang lima. Sudah menjadi cita-cita Lina untuk menjadi pembantu. Sejak keinginan itu tebersit dalam benak. Berbagai usaha pun dilakukan untuk mewujudkannya. Belajar dari berbagai macam bacaan yang ada di sekolah. Magang langsung menjadi pembantu ataupun bergabung dalam organisasi masyarakat yang kerjanya membantu orang. Semua itu dilakukan untuk mencapai pangkat tertinggi pembantu. Bintang lima. Setara dengan jendral, pikirnya. Tentu saja akan menjadi terobosan baru dalam dunia karir perempuan.

Koran, majalah, radio, televisi, dan berbagai macam media memberitakan bencana yang sedang terjadi. Catatan jumlah korban dan kerugian. Terpampang begitu jelas. Total keseluruhan yang jelas makin bertambah.

Lina mengemasi peralatan pembantu yang ia gunakan. Perlengkapan yang selalu ia bawa setiap ingin membantu. Menjadi pembantu. Darah ‘O’ yang ia punyai. Sejumlah uang yang memenuhi tasnya. Beberapa koper pakaian bertumpuk. Buku pelajaran…

Sirkus Kuda Tante Rosa

Karya: Sevgi Soysal (1936-1976)
Terjemah versi Inggris: Amy Spangler
Terjemah versi Indonesia: Anton Kurnia
http://www.korantempo.com/

PADA umur sebelas, Tante Rosa membaca tulisan di bawah foto Ratu Victoria dalam majalah mingguan Kau dan Dirimu: “Ratu Victoria yang berumur 18 tahun menginspeksi Pasukan Kavaleri Kerajaan. Sekali lagi Yang Mulia berhasil menaklukkan hati pasukan kavaleri dan rakyat seluruh negeri.”

Tak lama setelah mematri dalam memorinya frasa “menaklukkan hati” bersama gambar kuda-kuda yang tampak di dalam foto itu, Tante Rosa memutuskan untuk menjadi pemain akrobat sirkus kuda.

Ketika Rosa memberitahukan keputusannya kepada ibunya, sang ibu sedang membaca kalimat-kalimat berikut dalam cerita bersambung di majalah Kau dan Dirimu: “Bulan demi bulan berlalu, hari berganti minggu, dan lelaki itu, agar tak melihat perut membuncit adik perempuannya dengan hati dicekam dosa, memalingkan pandangannya yang terbakar oleh hasrat bertarung melawan makhluk-makhluk buas. Dan disertai …

Sebuah Mimpi

Agus Sunarto
http://www.suarakarya-online.com/

Semalam saya bermimpi begitu indah, Kang,” kata Rofiq kepada tetangganya. “Saya memasuki kehidupan yang begitu dinamis, tapi tenang dan menggetarkan. Segalanya penuh dengan cinta.”
“Seperti dalam sinetron atau film itu?”

“Bukan tentang manusia baik dan manusia jahat seperti itu. Manusia dalam impian saya, ada dalam ketegangan baik dan buruk. Semua tindakan didukung oleh sebab sosiologis dan psikologis.”
“Ceritanya tentang apa?”
“Tentang sebuah negara yang damai. Tentang masyarakat yang saling membantu.

Tentang kekuasaan yang saling melindungi. Tentang orang pintar yang mendidik. Tentang orang kaya yang menolong. Tentang orang miskin yang optimis. Tentang alam yang begitu indah. Tentang puasa dari nafsu berlebihan.”

Rofiq menerawang mengingat kembali apa yang pernah diimpikannya. Pikiran dan hatinya begitu khusuk merasakan kembali angin kedamaian yang pernah menyentuhnya, kehangatan api yang pernah mengelusnya, kesuburan tanah yang pernah menggemb…

Seseorang dengan Agenda di Tubuh

Pringadi Abdi Surya
http://suaramerdeka.com/

(1)
BIASANYA, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukan mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi yang meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarah ke siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan: sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi mengembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.
Ini sudah korban yang kesebelas. Tidak seperti cerita-cerita yang umum terjadi, saya tidak butuh topeng darah misterius yang bikin saya jadi gila. Saya juga tidak memiliki kepribadian ganda atau motif biasa seperti untuk…

Merentang Riwayat Reggae

Hudel*
http://terpelanting.wordpress.com/

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.

Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae …

Memoar Seorang Pendekar Tua

Judul Buku : Nagabumi I; Jurus Tanpa Bentuk
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : November 2009
Tebal : x + 815 halaman
Harga : Rp. 150.000,-
Peresensi : Akhmad Sekhu
http://hiburan.kompasiana.com/

Apa yang dapat dilakukan seorang pendekar tua yang tahu ajalnya sudah dekat? Ia tak ingin mati sebelum dapat menuliskan memoar riwayat hidupnya, sebagai cara untuk membongkar rahasia sejarah. Demikian yang tersirat dari buku berjudul “Nagabumi I; Jurus Tanpa Bentuk” yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma.

Buku itu tentu bukan menceritakan jaman sekarang, tapi jaman dahulu kala yaitu sekitar tahun 871 di Pulau Jawa. Alhasil buku itu harus menyertakan banyak referensi, baik itu referensi buku-buku sejarah maupun website. Bahkan tidak tanggung-tanggung Seno terpaksa kudu menyertakan catatan kaki sekitar 45 halaman. Ini sungguh lain dari para pengarang cerita silat sebelumnya, sebutlah misalnya Kho Ping Ho, pengarang buku silat legendaris Indonesia yang …

Perempuan Menjelaskan Perempuan

HERStory: Sejarah Perjalanan Payudara

Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

KARTINI adalah pemula dari kemauan dan kepentingan untuk menjelaskan perempuan melalui perspektif perempuan. Segepok surat Kartini telah menjadi suara perempuan dan tanda mata zaman bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.

Kartini menjelma inspirasi dari perubahan lakon perempuan dari zaman ke zaman. Naning Pranoto pun mengacu pada Kartini dalam ikhtiar menjelaskan perempuan oleh perempuan melalui tarikan sejarah sampai sampai realitas mutakhir.

Naning Pranoto menganggap Kartini adalah simbol dari gerakan penghapusan diskriminasi gender. Sejarah patriarkat dalam biografi diri Kartini telah menutupi terang dan mengurung perempuan dalam kegelapan. Pemikiran dan gerakan Kartini untuk melawan diskriminasi dengan model pendidikan merupakan bukti dari ikhtiar menuju terang dan membuka jalan bagi perempuan memiliki-mengembangkan diri.

Kartini dalam buku ini memang memberi inspirasi bersama sekian tokoh-tokoh pere…

Karena Hukum Tidak di Ruang Hampa

Buku Sosiologi Hukum, Esai-Esai Terpilih

Gugun El-Guyanie
http://www.suaramerdeka.com/

Pak Tjip almarhum, diakui oleh publik Tanah Air sebagai mujtahid (pembaru) dalam bidang hukum. Karena lompatan-lompatan ijtihad-nya, ilmu hukum menjadi tidak angker dan elitis, atau hanya berada dalam ruang yang abstrak dan hampa. Karena Pak Tjip, perangkat ilmu-ilmu sosial, termasuk sosiologi bisa menjadi pisau analisis yang menyentuh, bahkan menguliti angkernya disiplin ilmu hukum.

Sosiologi hukum lahir karena kegelisahan Pak Tjip, yakni adanya disparitas antara idealitas hukum dan realitas masyarakat. Jurang yang begitu lebar antara cita-cita mulia perundang-undangan untuk mengatur dan menertibkan masyarakat, tak kuasa berdialektika dengan kenyataan sosiologis yang selalu dinamis. Melalui kerangka baru sosiologi hukum, tentunya semakin terbuka pintu pembebasan dari dominasi cara berpikir hukum yang mengandalkan rules and logic untuk mendukung tatanan yang normatif. Hukum bergerak sesuai dengan regula…

Paus Bicara soal Seks?

D Pujiyono
http://www.suaramerdeka.com/

Pelbagai sebutan telah dikenakan pada mendiang Paus Yohanes II.
Pejuang kebenaran, pembela kehidupan, penentang budaya kekerasan dan kematian, pelopor perdamaian, pembela kaum miskin dan komunikator ulung.

Presiden Iran Mohammad Khatami menyebut Paus Yohanes Paulus II sebagai seorang tokoh agama yang sangat terpuji. Dia juga mengatakan Paus yang bernama asli Karol Wojtyla ini adalah orang yang mengusahakan terciptanya koeksistensi damai, moderasi, dialog antar-agama, terutama antara Islam dan Katolik. Pernyataan ini disampaikan, ketika Paus Yohanes Paulus II wafat Sabtu, 2 April 2005 melalui Al-Jazeera.

Satu sebutan lagi yang mesti dikenakan, ia adalah seorang seksolog yang andal. Beberapa bulan setelah terpilih, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik pertamanya Redemptor Hominis (4 Maret 1979). Kemudian ia mengeluarkan Ensiklik II yang berjudul Dives in Misericordia (30 Nopember 1980). Pada tahun berikutnya muncul Ensiklik Laborem Exercens (14…

KEPADA YANG MELUPAKAN*

:Pengantar Antologi Puisi Penyair Perempuan Asas “Sihir Terakhir” (diterbitkan PUstaka puJAngga 2009)

Nenden Lilis A.**
http://www.sastra-indonesia.com/

Membuka lembar demi lembar antologi puisi yang ditulis para perempuan yang tergabung dalam komunitas ASAS dan menghikmatinya satu demi satu, saya seperti membuka lembar demi lembar album kenangan sekaligus sejarah perjalanan sastra perempuan kita. Dari tiap lembar album yang terbuka menganga itu seolah menjerit suara tentang perempuan, yang dalam sejarah atau segala hal lainnya selalu di “sunyi”-kan dan ditinggalkan waktu; dimarjinalkan dan didiskriminasi.

Saya ingin membuka sedikit gambaran itu dari pengalaman personal saya sebagai penyair yang berjenis kelamin perempuan. Kalau kemudian saya bercerita tentang hal itu dari kondisi kepenyairan di Jawa Barat, itu karena kebetulan saja saya berdomisili di Jawa Barat. Tetapi, saya yakin, bahwa gambaran ini adalah juga representasi kondisi perempuan di wilayah-wilayah lainnya.

Di Jawa Barat, ba…

Menakar “Syahwat” Politik Santri

Judul Buku: Politik Santri; Cara Menang Merebut Hati Rakyat
Penulis: Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: I (Pertama), 2009
Tebal: 304 halaman
Harga: Rp. 55.000,-
Peresensi: Humaidiy AS
http://oase.kompas.com/

Islam dengan politik tetap menjadi bahan perbincangan menarik untuk dicermati terlebih menjelang pilpres Juli 2009. Dari perspektif politik (upaya mencari dukungan untuk menduduki kursi kekuasaan), suara umat Islam yang nota bene adalah mayoritas sampai saat ini masih menjadi kartu truf dalam upaya untuk memperoleh kursi dalam kekuasaan. Bagi elite politik Indonesia, Islam ibarat “gadis cantik” yang selalu dijadikan rebutan untuk memperbesar kekuatan masing-masing partai politik.

Abdul Munir Mulkhan melalui buku yang berjudul Politik Santri; Cara Menang Merebut Hati Rakyat, berusaha menelusuri sejauh mana manuver partai-partai politik berbasis Islam (diistilahkan oleh penulis sebagai politik santri) berhasil bertahan dalam lingkaran pertarungan politik praktis deng…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com