Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Kritik dalam Karya Sastra, Ketakutan Penguasa, dan Ketakutan Kepada Penguasa

Sunaryono Basuki Ks
http://www2.kompas.com/

KARYA seni meniru alam, begitu kira-kira kata Aristoteles. Inilah prinsip mimesis, meniru alam. Alam beserta isinya yang dihamparkan Allah adalah milik Allah semata (Surat Yunus, Ayat 55 dan 66), dan memang sangat layak menjadi sumber segala keindahan, dan menjadi satu-satunya sumber yang ditiru dalam seni. Alam yang dimaksud oleh Aristoteles tentu saja tidak terbatas pada pemandangan alam, tetapi termasuk juga manusia penghuni alam ini, perilakunya, pandangan hidupnya, wataknya, sikapnya. Ahli lain menyebutnya sebagai kehidupan.

Di dalam proses kreatif seni, seniman tergerak hatinya secara emosional dan intelektual oleh kehidupan, lantas daripadanya, didukung oleh imajinasi, membentuk suatu konsep yang diwujudkan ke dalam sosok tertentu yang menuntut suatu struktur tertentu. Struktur ini tunduk kepada sejumlah aturan berkesenian tertentu.

Karya sastra sebagai salah satu bentuk kesenian tidak bisa lepas dari proses kreatif ini. Orang Inggris men…

Dante Alighieri (1265-1321)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=349

Dante Alighieri lahir di Florence 1265, meninggal dunia di kota Ravenna, Italia 1321. Menulis sajak secara autodidak dan sempat kuliah di universitas Bologna. Oleh ingatannya atas perkenalan dengan seorang gadis bernama Beatrice, terlindaslah mengarang sajak-sajak menuju ketenarannya yang bertitel Divina Comedia (1307 - 1321). Pernah dipanggil ke Bologna menerima tanda penghargaan tertinggi sebagai penyair, namun ditampiknya. Divina Comedia terdiri tiga bagian, Neraka, Antara Neraka dan Surga, Surga; masing-masing 33 nyanyian. Menurut Ibnu Arabi, Dante terinspirasi Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW dalam pokok fikiran sajak-sajaknya.
***

Di jalan sunyi, debu-debu menandakan bumi semakin tua, Dante berlari-lari kecil menyambut senyum Beatrice, saling memanggil berkejaran serta sembunyi. Ada tawa renyah di balik mata jelita, seakan tiada peperangan juga intrik di masa mendatang, pahit getir hati pun belum tersingkap realita.

Nyanyian kanak pen…

Sastra dalam Roman Detektif

Judul Buku : Lelaki dari London (L`homme de Londres)
Penulis : Georges Simenon
Penerjemah : Apsanti DS
Penerbit : Kiblat
Cetakan: April 2009
Peresensi: Anne Rufaidah*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BUKU Lelaki dari London ini diterbitkan atas dukungan Departemen Luar Negeri Prancis dalam rangka program bantuan penerbitan yang dikelola oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Buku ini tentunya adalah satu buku dari beberapa penulis andal Prancis yang diterbitkan di indonesia, terutama untuk genre novel detektif. Saya memilih buku ini, setelah sebelumnya saya membaca buku dengan penulis yang sama, berjudul Tukang Kuda Kapal La Providence (Le Charretier De La Providence), dan Pertaruhan Jiwa (La Tete D`Un Homme). Buku ini merupakan serial dari buku-buku sebelumnya.

Georges Simenon merupakan salah satu penulis andalan Prancis dalam menulis novel fiksi detektif. Novel-novelnya selalu memiliki ketertarikan tersendiri dibandingkan penulis cerita detektif lainnya.

Selain itu Simenon pun mencipt…

BOM

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.

Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam, bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis, mengingat ekonomi yang sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom, membatalkan laganya dengan PSSI All Star.

“Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau,”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban, seperti yan…

Belajar Bercinta dengan Laut

Marhalim Zaini
Koran Tempo, Minggu, 19 Juni 2005

Segala yang datang dari laut, cintailah.
Tentang perjalanan. Tentang hidup yang tak terukur. Dan sesuatu yang tiba-tiba membuat kita merasa tidak lengkap. Di mana ia? Seorang saja yang hilang, pasti hati kita lengang. Kehilangan itu kian akrab. Seakrab kematian. Dan laut, selalu menyimpan ketakterdugaan. Ia, lelaki yang pergi bersama subuh. Aku, perempuan yang menanti seperti luluh. Kami, sepasang kekasih, yang disebabkan laut, maka harus melepas pagut.

Ini bekas barut perahumu. Apa yang tertulis di pasir, itulah yang kutunggu. Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Bukankah telah kautanam di batas pantai, sebuah janji? Bahwa kepulanganmu adalah pasti. Aku perempuan yang tak ingin diingkari, menatap laut yang tak berbatas di matamu, seperti mimpi yang tak bertepi. Apakah kita sedang bermimpi? Tidak. Perasaanku adalah saksi. Sewaktu kau menyerah pada laut, dan membiarkan tangannya membawamu, aku sebenarnya sedang belajar mengekalka…

Saya Telah Difitnah

AS Sumbawi
http://www.sastra-indonesia.com/

Sungguh. Beruntunglah anda yang bisa baca-tulis. Juga punya kesempatan membaca sebuah tulisan dan mengetahui bahwa Saya telah dijahati. Saya benar-benar telah difitnah.

Memang, ini bukan pertama kalinya. Bahkan sampai sekarang ini, sejak berabad-abad yang lalu, entah sudah berapa jutaan, milyaran, triliunan kali Saya selalu dimunculkan seperti itu. Saya dijadikan tokoh dengan berbagai macam profesi, jenis kelamin, klasifikasi umur, watak, kejadian, dan sebagainya.

Beberapa orang penulis meletakkan Saya sebagai tokoh dari berbagai tulisan; baik novel, cerpen, novelet, dan entah apalagi macamnya; mulai dari cerita cinta yang romantis, detektif, misteri, horor, silat, perjuangan kaum tertindas, petualangan, pencarian, dan sebagainya.

Di antara penulis yang pernah ada dan yang masih ada di dunia, penulis yang berperawakan kurus, berambut pendek yang ikal, berkulit kusam karena jarang mandi, berbola mata menonjol dengan sinar mata yang suram akibat ku…

Kisah Pelancong Prancis di Indonesia

Judul Buku:Orang Indonesia & Orang Prancis Abad XVI sampai dengan Abad XX
Judul Asli: Les Français et I’Indonésie du XVIe au Xxe siécle
Penulis: Bernard Dorléans
Penerjemah: Parakitri T. Simbolon dan Tim
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Cetakan: I, Oktober 2006
Tebal: xlii + 644 Halaman
Peresensi: Tasyriq Hifzhillah
http://www.ruangbaca.com/

Claude G. Bowers (1878-1958), sejarawan dan diplomat Amerika, pernah berkata, “Sejarah adalah obor yang dimaksudkan untuk menerangi masa lampau, untuk mencegah kita mengulangi kekeliruan yang pernah kita buat.” Bowers betul ketika mengatakan itu karena sejarah mengajarkan kita agar mempelajari kemajuan ataupun kemunduran dari berbagai peristiwa.

Dalam konteks sejarah Nusantara, kedatangan orang Eropa mengandung unsur positif dalam hal penulisan sejarah, karena ada di antara petualang Barat itu yang meninggalkan kisah tertulis mengenai pelayarannya ke Nusantara. Yang terkenal di antaranya Suma Oriental yang ditulis pelancong asal Por…

Kota Suci Penerang Peradaban

Muhammadun A.S*
http://www.jawapos.com/

ADA dua kota suci yang dirindukan umat Islam untuk selalu disinggahi. Yakni, Makkah dan Madinah. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah, dan di kota inilah Nabi Muhammad mulai menyebarkan risalah agamanya. Sedangkan Madinah menjadi persinggahan kedua Nabi, sehingga Islam semakin maju dalam menciptakan peradaban zaman. Nabi pun akhirnya dikuburkan di Madinah.

Karena keagungannya, kedua kota suci ini dikatakan sebagai al-haramain; dua kota suci yang diharamkan berbuat kejahatan dan kenistaan. Mustahil kiranya mau mengkaji jejak Nabi dan jejak Islam tanpa memahami secara mendalam atas seluk-beluk Makkah dan Madinah.

Buku bertajuk Mekkah; Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim karya Zuhairi Misrawi ini merupakan bentuk penjelajahan dalam memotret Makkah secara biografis. Penelusuran biografis atas Makkah dilakukan penulis dengan mengetengahkan unsur lokal dan pengalaman hidup dan belajarnya selama menuntut ilmu di Timur Tengah. Kesan-kesan hidup sentimen…

Potret Manusia dalam Sekarini

Khisna Pabichara
http://www.suarakarya-online.com/

Manusia adalah binatang berpikir, demikian ditegaskan filsuf besar, Aristoteles. Artinya, satu-satunya potensi besar yang membedakan manusia dengan binatang adalah karena manusia memiliki akal. Akal ini merupakan aset unik yang bisa menegaskan keunggulan manusia dari binatang. Dengan akal, manusia bisa menjadi “binatang beradab”.

Dengan akal pula, manusia bisa mengendalikan karakter kebinatangannya. Ihwal inilah yang didedahkan dengan lugas oleh Vivi Diani Savitri dalam sekumpulan cerita pendeknya, Menanti Sekarini. Bermula dari kegelisahan, Vivi seakan menghunjamkan rupa-rupa tanya perihal ketergeseran atau malah kembalinya perilaku dan tabiat manusia pada dominasi karakter kebinatangannya.

15 cerpen yang dianggit Vivi, seperti menguak penegasan Thomas Hobbes (1588-1679) tentang karakter binatang lebih tepatnya iblis dalam diri manusia. Lewat Kasih Sukesi, pengarang memotret wajah perempuan yang sudah tidak memercayai kesejatian cinta ta…

Pembebasan Terhadap Kaum Tertindas

Judul Buku : Dari Teologi Menuju Aksi Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xv + 303 halaman
Harga : Rp 35.000,-
Peresensi : M. Misbahuddin*)
http://oase.kompas.com/

Dalam penciptaan dunia ini, Tuhan sebagai Sang Pencipta menciptakan semua makhluk-Nya dengan posisi lemah di hadapan- Nya. Tidak ada makhluk (ciptaan) baik itu makhluk hidup ataupun mati yang lebih kuat dan kuasa di hadapan Tuhan, tidak ada yang setara dengan- Nya. Meski demikian, para makhluk yang lemah itu mempunyai karakter dan sifat yang berbeda-beda. Ada sebagian yang lemah dan tertindas karena sebagian yang lain yang lebih kuat dan merasa berkuasa. Makhluk yang termasuk dalam golongan lemah pun menjadi kelompok tertindas oleh golongan makhluk yang merasa ? ok?kuat dan berkuasa itu.

Abad Badruzaman dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan menguraikan tentang kesenj…

Yukio Mishima (1925-1970)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=301

Sebelum bergentayangan memasuki selubung nasib Yukio Mishima, aku kan meringkas terlebih dulu kisah hayatnya dari buku Sang Samurai yang disusun Agata P. Ranjabar, penerbit Pinus, juli 2009.

Yukio Mishima (1925-1970) lahir di Yotsuya, Shinjuku. Ayahnya Azusa Hiraoka, ibunya Shizue. Masa kanak-kanak dibayangi neneknya Natsu, pengasuh sekaligus pemisahan dari keluarga. Natsu adalah anak tidak sah Matsudaira Yoritaka, Daimyo Shishido di propinsi Hitachi yang tumbuh dalam keluarga pangeran Arisugawa Taruhito. Mishima balik ke pangkuan keluarganya berumur 12 tahun, menulis cerita juga senang karyanya Oscar Wilde, Rilke serta para penulis Jepang klasik.

Sekolah di Peers School 6 tahun, menjadi anggota dewan editorial termuda sastra. Diminta menulis prosa pada Literature The Peers’ House, menyerahkan Hanazaki ni Mori, cerita di mana sang narator menjelaskan nenek moyangnya masih hidup dalam dirinya, dipublikasikan 1944, bernama pena “Mishima Yu…

Agam Wispi (1930-2003)

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di sebuah rumah jompo di Amsterdam yang dingin, tahun 2003 dibuka dengan seorang penyair yang meninggal. Ajal datang hanya beberapa menit setelah 31 Desember. Itu hari ulang tahunnya. Saya bayangkan ia, persis pada usia 72 itu, sendiri, mungkin dalam kamar yang padam lampu, ketika cuaca di luar di bawah nol.

Hampir 40 tahun lamanya ia juga praktis diletakkan dalam gelap dan dalam sunyi. Indonesia seakan-akan melupakannya, Agam Wispi, satu dari khazanah nasional yang berharga: bukan saja puisinya yang cerah dan menggugah, tapi juga hidupnya sebagai satu saksi sejarah Republik? sebuah sejarah yang tak putus-putusnya digerakkan oleh cita-cita dan dihantam kekerasan.

Ia telah mengalaminya bahkan sejak awal. Di rumah masa kecilnya pernah menginap Tan Malaka, dalam salah satu perjalanan rahasia. Ketika itu, demikianlah ia pernah bercerita kepada saya, dari Aceh orang tua Wispi pindah sebentar ke Singapura, satu migrasi yang biasa di masa kolo…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com