Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Sitor Situmorang, Karena Sastrawan Bukan Malaikat

Sitor Situmorang. Pewawancara: Bagja Hidayat, Qaris Tajudin
http://www.ruangbaca.com/

Suaranya masih bergemuruh di usia yang menanjak 82. Gayanya juga masih khas: menggebrak, menunjuk, atau mengguncang pundak lawan bicara sambil terkekeh—terutama jika menyangkut soal politik di sekitar tahun 1965. Sitor Situmorang memang tak bisa dipisahkan dari situasi politik ketika itu yang membuat dua kubu seniman berhadapan secara tegas. Di satu sisi ada seniman-seniman realisme-sosialis yang mendukung kebijakan Presiden Soekarno dan di seberangnya berdiri para seniman muda yang kemudian disebut kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan). “Situasi dunia akibat perang dingin antara Amerika dan Soviet yang membuat politik seperti itu,” katanya.

Banyak yang mengkritik, atau menyayangkan, terjunnya Sitor ke politik sehingga “mengganggu” bakat kepenyairannya. Pada awal-awalnya, puisi-puisi Sitor membawa gaya sendiri dengan menengok kembali tradisi lama berupa pantun, dengan renungan personal yang sublim. Set…

Perlawanan Kaum Santri, 25 Februari 1944

Nina Herlina Lubis
http://pr.qiandra.net.id/

"I have nothing to offer but blood, toil, tears, and sweat." Itulah "kata-kata bersejarah" yang diucapkan Winston Churchill pada tanggal 13 Mei 1940, tiga hari setelah dia diangkat menjadi perdana menteri Inggris. Kata-kata itu ternyata memberi spirit yang luar biasa kepada para pejuang Inggris untuk memenangkan Perang Dunia ke-2.

Empat tahun kemudian, di tempat nun jauh di Timur, di mana jam menunjuk angka enam jam lebih cepat, "kata-kata bersejarah" itu menjadi fakta sejarah. Pada tanggal 25 Februari 1944, yang jatuh pada hari Jumat, di sebuah kampung di daerah Singaparna, Tasikmalaya, terjadi sebuah peristiwa heroik. Ratusan santri terlibat dalam pertempuran dan perkelahian jarak dekat. Namun, dua kekuatan itu jelas tidak seimbang. Senapan mesin, pistol, dan granat pasukan Jepang (meskipun personelnya adalah bangsa kita juga) berhadapan dengan pasukan K.H. Zaenal Mustofa yang hanya bersenjatakan bambu runcing, …

Adonis, Penyair di Negeri Tanpa Batas

Riadi Ngasiran
http://dutamasyarakat.com/

Setiap bangsa dan kelompok masyarakat, sebagai bagian dari perjalanan perabadannya, memiliki tradisi bersyair atau berpuisi. Karya sastra adalah prestise yang mengikatkan posisi seniman dengan kekuasaan atau suatu kedudukan tertentu dalam masyarakat. Ia hadir dirayakan dalam sebuah perhelatan agung, pembesar sebuah negara.

Dalam tradisi yang dibuai kreativitas tinggi bangsanya itulah, Adonis dilahirkan. Penyair terlahir dengan nama Ali Ahmad Asbar di Al-Qassabin, di utara Suriah pada 1930. Di sebuah lahan pertanian, ia menghabiskan masa-masa kecilnya. Ia baru belajar pada usia 12 tahun dari seorang guru desa. Ia pertama kali menginjak sekolah pada 1947 di Lattakia dan kemudian melanjutkan ke Universitas Suriah di Damaskus dan lulus dalam bidang filsafat pada 1954.

Nama Adonis mulai dipakainya setelah karya-karya sastranya ditolak sejumlah majalah. Baru setahun lulus ia dipenjara selama enam bulan karena menjadi anggota partai radikal pan-Suriah, P…

Pengarusutamaan Teks Mbeling

(2007 untuk Peta-2008 untuk Berkarya)

Endri Y
http://www.lampungpost.com/

MENCERMATI kegelisahan, proses mencari kekuatan karakter “kedirian” yang bebas, independen, dan terlepas dari kemelekatan-kemelekatan. Mengingatkan kita pada tuntutan dan “pengadilan puisi”-nya Slamet Kirnanto yang diselenggarakan di Bandung pada 8 September 1984. Hanya sebuah kenyelenehan dan kengawuran, tetapi sayangnya, tidak lucu!

Mengomentari teks tuntutan itu, Sapardi Djoko Damono menulis–harus ditafsirkan sebagai badutan yang segar saja karena kalau tidak begitu kita bisa menyebut penulisnya sinting–(Kesusastraan Indonesia Modern, hlm. 85)
***

Barangkali sulit, dan belum pernah ada kekuatan teks yang dimuat Lampung Post, yang tidak serius atau setidaknya, yang mbeling dan membawa pencerahan baru sebagaimana maksud Asarpin. Demikian tangkapan saya pada arah tulisan Bingkai, Lampost (6-1). Benarah demikian? Sehingga perlu digagas Segitiga Pengarang–Teks–Pembaca tetapi isinya, mengarah–”pada mulanya bukan mula, bu…

Realisme Sastra dalam Konteks Kemerdekaan Berpikir

Mulyo Sunyoto
http://www.hupelita.com/

Novelis Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lalu kembali menyuarakan kredonya mengenai dunia penciptaan fiksi.

Penulis yang diasosiasikan dengan kekuatan politik “kiri” itu tetap kukuh dengan pendapatnya bahwa realisme dalam sastra adalah sebuah keniscayaan.

“Realisme sastra memberikan kemerdekaan kepada publik untuk mengambil kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang ditulis oleh seorang sastrawan,” kata Pram.

Jika pernyataan itu dikemukakan pada saat Orde Baru masih berkuasa dan kebebasan berpikir dibelenggu, publik masih bisa menemukan relevansinya. Dalam suasana politik yang otoriter, fakta-fakta yang beredar di media massa seringkali distortif.

Pers lebih banyak mengutip pernyataan penguasa sehingga yang berkecamuk dalam koran adalah jurnalisme psikologis, bukan sosiologis.

Tokoh pers Mochtar Lubis merumuskan dengan kalimat, “Semua fakta yang muncul di media massa telah dirinso oleh redaktur.”

Dalam kondisi yang demikian, realitas sosial justru serin…

Spiritualitas dalam Sastra

Tentang “Surga Anak-Anak” karya Najib Mahfuz

St. Sunardi
http://oase.kompas.com/

1/
Beginilah kita menyaksikan dalam “Surga Anak-Anak” agama yang sedang gagap menghadirkan dirinya dalam masyarakat modern. Rasa gagap ini berakhir tragis: agama digugat oleh anak-anak. Agama–yang diwakili oleh sang ayah–belingsatan: seolah-olah mampu padahal tak berdaya mempertanggungjawabkan kekuasaannya. Karena kehabisan kata-kata, sang ayah berusaha menunda persoalan: “Engkau masih kecil, sayang; nanti kalau kau sudah besar, engkau akan mengerti …” atau “Tidakkah kau sabar, sayangku, menunggu sampai engkau besar?”.

Seandainya sang anak mengikuti nasihat ayahnya, pengertian agama macam apa yang sedang menanti saat anak menjadi dewasa? Pengertian agama yang bikin sang ayah panik atau pengertian yang bisa membebaskan sang anak dari garis batas yang ditarik atas nama agama? Pengertian agama yang diajarkan di kelas dan mimbar-mimbar atau pengertian agama yang didapatkan lewat praktik kehidupan? Allahu `alam!

Say…

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas “bahasa” sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) -untuk menyebut beberapa contoh-, seperti disinyalir oleh Yasraf Amir Piliang (2002), tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kapitalisme (sebagai ideologi ekonomi) yang cenderung bergerak ke arah libidonomics, yaitu sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi secara ekstrem segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka meraih keuntungan maksimal (added value). Ideologi libidonomi kapitalisme memperlakukan tubuh dan segala potensi libidonya sebagai titik sentral dalam produksi dan r…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com