Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Ladang Terbakar

Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/

APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.

Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang S…

Kyoto monogatari

Seno Gumira Ajidarma
http://www2.kompas.com/

TERBUAT dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi: suatu pemandangan yang kudapatkan ketika kereta api shinkansen itu tiba-tiba menembus daerah salju dan kulihat seorang perempuan berjalan di luar rumah sendirian dalam badai. Apakah yang dikerjakan seorang perempuan dalam badai yang menggebu seperti itu? Tidak banyak rumah di dataran salju yang kulihat itu, dan hanya perempuan itu yang tampak dalam keluasan serba putih dan memutih sampai di batas cakrawala. Udara penuh dengan salju yang beterbangan karena tiupan badai sehingga perempuan yang berjalan dengan lambat itu tampak menapak dengan begitu berat. Apakah yang dilakukannya dalam badai bersalju seperti itu? Aku tidak bisa memperkirakan apapun dan aku harus menerima kenyataan betapa aku tidak akan pernah tahu.

Pemandangan itu bagiku memilukan, bukan hanya karena merasakan kembali dingin yang merasuk dan membekukan, tapi kar…

Anak Betawi Sebagai Sastrawan

JJ Rizal*
http://www.ruangbaca.com/

Betul juga Zefry Alkatiri, yang bilang dalam sajaknya, "Anda Memasuki Wilayah...", bahwa masuk wilayah Jakarta itu ada saja syaratnya. Disebutnya rupa-rupa tempat di Jakarta yang mesti dimasuki dengan rupa-rupa syarat. Kalau tidak, bakal ketiban pulung. Tetapi, dalam sajak itu Zefry tak menyebutkan kalau Jakarta pun menuntut syarat kepada teman-teman atau pendahulunya sesama sastrawan ketika mau masuk.

Jakarta, yang dianggap sastrawan seantero Tanah Air sebagai ikon modernitas, mensyaratkan mereka sebelum masuk untuk mencopot tradisi dan masa lalu yang dibawa dari kampung halaman. Tengoklah pengakuan Goenawan Mohamad. Ketika masuk Jakarta di tahun 1960, sebagai seorang penyair "kemarin sore" dengan segerobak ambisi sastra, ia mengaku mesti menggosok-gosokkan punggungnya hingga beberapa sisa masa lalu yang melekat seperti daki itu kikis, makin pudar.

Asrul Sani menghardik orang kampungnya supaya meninggalkan ia sendiri di Jakarta dan …

Sajak Sahaya Sengaja Bersahaja

Zen Hae
http://korantempo.com/

M. AAN MANSYUR (semoga Allah memuliakan namanya) adalah satu dari sedikit penyair muda usia yang layak dibicarakan. Ia telah menerbitkan tiga buku, yaitu kumpulan sajak Hujan Rintih-Rintih (2005) dan novel Perempuan, Rumah Kenangan (2007), dan kumpulan sajak Aku Hendak Pindah Rumah (Nala Cipta Litera, Makassar, 2008), yang dibicarakan dalam tulisan ini. Sajak-sajaknya, terutama dalam buku terbarunya, adalah seperangkat upaya yang cukup menjanjikan: sepenggal jawaban atas problematika persajakan Indonesia mutakhir.

Jika mayoritas puisi kita hari ini, sebagaimana dikatakan Nirwan Dewanto lebih dari 2,5 tahun lalu, berupa tumpukan dan kocokan kata untuk mencapai keajaiban dan keganjilan, maka sajak-sajak Aan adalah komposisi untuk mencapai kesederhanaan dan kewajaran. Jika kebanyakan penyair hanya mendedahkan keruwetan (dan bukan kompleksitas), kritik Nirwan pada kesempatan yang lain lagi, maka penyair kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982 ini meny…

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

http://cetak.kompas.com/
Lagu Kasmaran

1
Bertahun-tahun aku menyusuri jejakmu. Pergi ke segala penjuru
Mengikuti setiap arah mata angin, menembus ruang, memotong waktu:
Aku mencatat banyak tempat tapi bukan alamatmu, menghapal banyak
Hurup tapi bukan namamu, mengingat banyak wajah tapi bukan parasmu
Menyentuh banyak rambut tapi bukan rambut ikalmu, mendengar banyak
Suara tapi bukan nyanyianmu dan mencium banyak wewangian, sayangku
Tapi bukan napasmu. Aku mendatangi dermaga-dermaga, mengunjungi
Agen-agen tenaga kerja, ladang-ladang kelapa sawit serta kilang-kilang
Minyak. Aku mencarimu ke hotel-hotel, ke panti-panti pijat, ke sal-sal
Rumah sakit. Aku kembali ke selatan, ke riuh pasar dan bising terminal
Menonton organ tunggal di balai desa, berkaraoke di lapangan sepak bola
Numpang joget sampai pagi. “Mabuk lagi ah ah ah...” suara penyanyi itu
Mirip suaramu, goyang pinggul penyanyi itu mirip goyanganmu


2
Aku kasmaran membayangkan jarak dan rindu. Lalu diam-diam
Melangkah ke barat, mendaki bukit, menurun…

Mengintip Dunia di dalam Dunia

Judul buku: Dunia Kecil; Panggung &Omong Kosong
Pengarang : A. Syauqi Sumbawi
Jenis buku: Novel
Epilog : Nurel Javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga, Sastra Nesia, Lamongan 2007
Tebal Buku: iv+220hal,12×19cm.
Peresensi : Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong merupakan karya yang imajinatif. Karya yang penuh dengan perjalanan yang diliputi dengan perjuangan untuk mengungkap misteri. Misteri dalam realitas cerita itu sendiri.

Sebagaimana judul yang dipakai, Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong, novel ini mengisahkan tiga dunia sekaligus dalam rentang waktu yang bersamaan. Dunia tersebut adalah dunia nyata yang diwakili oleh omong kosong yang dilakukan antara dua orang tokoh yaitu sutradara pementasan dan salah seorang penonton pertunjukan. Ah tidak, bukan seorang penonton. Bisa jadi kita sendiri selaku penbacanya. Yang kedua adalah dunia panggung atau dunia pertunjukan drama dengan tokoh utamanya, Yangrana. Dunia yang ketiga ad…

Kelakar Jazz Donny Suhendra

Aguslia Hidayah
http://www.korantempo.com/

Di atas panggung, Donny Suhendra memulai penampilannya dengan berbicara kepada penonton. Selain memperkenalkan para musisi yang mendampinginya, ia menjelaskan bahwa selain nomor lama dan sudah dikemas dalam cakram padat (CD), ada sebuah nomor baru. Bahkan, "belum ada judulnya".

Di Bentara Budaya Jakarta Kamis malam lalu, musisi jazz ini memang memperkenalkan sebuah album dalam bentuk CD berjudul Di Sini Ada Kehidupan. Album yang berisi sembilan lagu itu merupakan pengemasan ulang dari album serupa yang pernah dirilisnya pada 1999.

Album ini juga diperkaya dengan featuring sederet musisi jazz kondang yang membantu Donny. Di antaranya Indra Lesmana, Pra Budidharma, Syaharani, Akshan Syuman, Gilang Ramadhan, Iwang Gumiwang, dan Indro Hardjodikoro.

Mengapa meluncurkan album lama? Tahun ke tahun, ia selalu ingin membuat album solo berikutnya. "Tapi kok banyak orang malah bertanya album pertama saya," katanya. Mengambil jalan tengah,…

Menguatkan Korelasi Susastra dan Film Nasional

N. Syamsuddin CH. Haesy
http://jurnalnasional.com/

PRODUKSI film nasional, pada masanya berkorelasi dan menggerakkan gairah penulisan dan penerbitan buku-buku sastra. Juga sejumlah programa siaran radio. Kita mencatat beberapa film nasional yang sedemikian bermakna sebagai penggerak kreativitas penulisan novel dan karya sastra lainnya.

Cintaku di Kampus Biru, Jangan Ambil Nyawaku, Lupus, Catatan Si Boy, dan lainnya adalah contoh paling konkret dari korelasi itu. Belum lama, kita mencatat film Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Tentu tak hanya itu, karena karya-karya roman juga diangkat ke layar lebar, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Sitti Noerbaja, dan Sengsara Membawa Nikmat.

Korelasi karya susastra dalam bentuk novel dan roman, serta programa siaran radio dengan film merupakan keniscayaan. Keduanya bisa saling menguatkan satu dengan lainnya. Apalagi, bila hendak disimak lebih jauh, bahwa karya-karya susastra berbasis fiksi dan kontemplasi, dalam banyak hal merupakan deskripsi reali…

Simfoni untuk Haydn

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

Jakarta: Di tengah padatnya kesibukan akhir pekan di Plaza Semanggi, terselip rombongan penikmat musik klasik. Mereka memadati kursi-kursi melingkar di Balai Sarbini. Sekitar 600 orang menghayati pengalaman musik karya Haydn dan Beethoven.

Nusantara Symphony Orchestra, Jumat malam lalu itu bukan tak sengaja memilih karya kedua komponis klasik tersebut. Tahun ini adalah adalah perayaan 200 tahun sejak meninggalnya Franz Joseph Haydn (1732-1809), komponis dari Austria. Komponis Jerman Ludwig van Beethoven pernah belajar di bawah bimbingan Haydn meski hanya setahun.

Konduktor dan pengarah musikal malam itu adalah Hikotaro Yazaki. Saat ini, Yazaki merupakan konduktor utama tamu untuk Nusantara Symphony Orchestra. Sang maestro ini dulunya adalah mahasiswa jurusan matematika Universitas Sophia, Tokyo. Pada 1970, dia lulus sebagai konduktor dari Universitas Nasional Tokyo. Kini, dia menjadi konduktor kenamaan kelas dunia dan sudah memimpin berbagai ork…

Mengaranglah Sampai ke Amerika

Binhad Nurrohmat
http://www.pikiran-rakyat.com/

Pada sejumlah pengarang kita mengarang karya ketika berada di negeri lain serta terilhami kenyataan manusia dan kebudayaannya, misalnya Rendra (Blues untuk Bonnie, 1971), Umar Kayam (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, 1972), dan Budi Darma (Olenka, 1983).

Para pengarang dan karyanya yang berjelajah lintas-budaya ini merupakan sebagian jejak prestasi "kosmopolitan" kesusastraan kita. Para pengarang ini mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri sendiri maupun negeri lain, yaitu Amerika, dengan mutu literer dan kadar kepekaan persoalan yang mengagumkan.

Pengarang yang mengarang karya di negeri lain serta tentang kenyataan manusia dan kebudayaannya agaknya masih menjadi sejenis romantisme dan dianggap bakat istimewa yang tak dipunyai oleh semua pengarang. Puisi Rendra, cerpen Umar Kayam, dan novel Budi Darma itu menangkap, menyelami, dan menyerap kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri yang "baru" …

Geni Jora

Penulis: Abidah El Khalieqy
Penerbit: MAHATARI
Tahun: 2004, cetakan I
Tebal: 222 hal.
Peresensi: Endah Sulwesi
http://www.ruangbaca.com/

Nama tokoh utama cerita ini adalah Kejora, Dewi Venus, bintang pagi yang tampak paling benderang di antara berjuta bintang di langit. Matanya belok, seperti boneka cantik dari negeri Antah (Heran, kenapa ya tokoh wanita dalam novel dan film selalu saja dikatakan cantik. Kapan ya yang tidak cantik mendapat peran utama? Paling-paling perannya sebagai antagonis : nenek sihir culas, ibu tiri jahat atau pembantu rumah tangga bagian bodor-bodoran. Kata temanku, kalau tidak cantik nanti ceritanya jadi tidak menarik, akibatnya buku atau film itu jadi tidak laku) Kejora juga cerdas, selalu ranking satu di kelas. Ia pun gadis mandiri dengan cita-cita tinggi : mendobrak dominasi laki-laki.

Untuk seorang anak dari seorang ayah yang tunduk patuh pada ajaran-ajaran Islam, agak aneh juga ia dinamai Kejora. Kakak perempuannya (yang juga jelita) bernama Bianglala. Kedua sau…

Sajak-Sajak Abidah el Khalieqy

http://www.infoanda.com/
KIDUNG SIMALAKAMA

Aku berdiri di bawah khuldi
saat senja menyamar
seperti iblis tanpa diundang
berbilah racun bersarung pedang
menusuk lambungku
di langit terang

Aku berdiri menangkar sunyi bumi
sendiri
menerbangi titik niskala
menyusupkan jiwa
ke puncak tahta
cahaya Cinta

Tak ada waktu membayang
merekah dan mengaku kalah
jengkal tanah selalu begitu
menghisap semua bunga
sekaligus putiknya

Hawa menembang lagu merdu
serupa kidung simalakama

2003



INTA WAHDAH
(Dikau Saja)

Hausku bukan Iqlima memeluk Qabil
bukan pula Cleopatra
Aphrodite atau Zulaikha

Cukup sudah cinta!
Tak usai Hawa ngembara
menyelami airmata
pohon apa bakal tumbuh
jika Layla abadi koma
di barak kumuh dan luka

Wahai Majnun di puncak resah!

Sudah kuhafal kata kata bijak
huruf batu dari kaum botak
namun kosa kata cinta
baru ketemu kamusnya
saat matamu purnama
dan subuh menderu
memanggil ruh di tubuh

Dikaulah cuma, kidung dadali kuping tuliku
juga ombak yang timbul tenggelam
bagai iman samudra jiwaku

Dan malam menggelombang
karna bintang berjum…

Puisi-Puisi Indrian Koto

http://sastrakarta.multiply.com/
Lelaki Sia

betapa malang dirimu
yang tak punya kepandaian apapun
selain mengutuk musim
yang berlarian di sepanjang jalan

berapa harus kau bayar
hidup yang sia-sia
dengan hanya menceracaukan
kutuk dan serapah
;bapak yang begitu kurang ajar
bersepakat dengan ibumu menciptakan
sebuah takdir yang tak kau kehendaki

lalu apa lagi
jika bunga-bunga pada pakaianmu
terus tumbuh
seekor ular kecil sembunyi di sana
dan sedikit nakal menggelitiki
kelaminmu
;hidup adalah warisan
yang terus diturunkan

selalu saja tubuhmu kosong
setiap kali ada yang menziarahi
kelayapan di mana saja kau ini hari
kau gantungkan impian pada sepotong malam

kau terlihat begitu kasihan dan kesepian
yang tak memiliki kepandaian apa-apa
selain mengutuk waktu
yang terus berlarian
di sepanjang tubuhmu yang kosong.

2006



Perempuan Laut

aku ingin tamasya ke tubuhmu yang pantai
melayari teluk dan riang ombak di palungmu
yang landa…

Einstein Tak Menemukan Tuhan

A. Yusrianto Elga*
http://www.jawapos.com/

Albert Einstein adalah salah satu sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20 dan bahkan hingga kini. Kenapa demikian? Karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknonogi yang sulit ditandingi oleh para ilmuan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinnya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ''pembodohan massal'' dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal.

Kritik yang disampaikan Einstein tersebut sebenarnya berangkat dari kegelisahannya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia (antropomorfisme) dalam Kitab Injil. Selain itu, ia juga mengkritik filsafat ketuhanan yang dikembangkan oleh gereja yang terkenal dengan istilah Trinitas: Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Sampai akhir hayatnya, Einste…

Diburu

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Tahun akan menghadapi krisis, kata para pakar, tapi kita tahu, ”nasib” adalah sebuah cerita yang senantiasa datang terlambat. Kita baru dapat menyimpulkannya setelah perjalanan selesai.

Bagaimana sejarah akan usai, itu tak mudah dijawab. Sebab kita adalah anjing diburu dalam tamsil Catetan Th. 1946 Chairil Anwar, yang

—hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang.
Pernah ada optimisme bahwa kita bisa menyusun sebuah tambo tentang perubahan, ketika
Lahir orang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat.

Pernah juga ada harapan bahwa nanti, jika kegaduhan selesai, gejolak reda dan rusuh hati berhenti, jika bencana, jatuh bangunnya kekuasaan, perang dan huru-hara yang berkecamuk sudah lewat dan hanya tersisa sebagai ingatan yang kabur—jika nanti tiada sawan lagi diburu/ Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu—kita akan bisa mencoba menemuk…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com