Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Write for Writing atawa Work for Works!

Bernando J. Sujibto

(saya merasa bingung ketika hendak menuliskan catatan ini harus menggunakan judul bahasa Inggris. Apalagi bulan dan tahun ini adalah bulan dan tahun kebangkitan ke-Indonesia-an. Semua ini seperti menekan saya. Namun saya merasa bahasa Indonesia (tetap) kurang mumpuni. Saya tidak tahu kenapa demikian. Mungkin kalau terpaksa di-Indonesia-kan menjadi 'menulislah untuk tulisan [itu sendiri]'...).

Write it all down, just the truth, no rhymes, no embellishments, no adjectives…. Kalimat pendek ini adalah salah satu dialog yang saya ambil secara mentah dari sebuah film, yang menurutku cukup baik ditonton, Atonoment. Dari film itu kemudian melahirkan kegelisahan baru seperti dalam tulisan kali ini.
***

Seringkali, yang dilakukan kita adalah ’karena (oleh) orang lain’ atau ’karena (untuk) orang lain’. Untuk pekerjaan itu sendiri, ataupun karena tugas dan tentu karena panggilan yang di luar semua kepentingan (beyond the thing), sangat jarang kita temukan dalam sekian kesi…

Pengantin Hamil

Riau Pos, 30 Maret 2003, Harian Bernas, 27 Juli 2003
Marhalim Zaini

“Kita akan bersanding, sayang. Duduk di atas pelaminan, seperti raja dan permaisuri. Daun inai yang diracik halus, akan menghiasi jemari tangan dan kaki kita dengan getah merahnya. Beras pulut, beraroma kuning kunyit, akan ditabur oleh sanak saudara di atas kepala kita, sebagai tanda, restu dan doa telah diberi. Maka hati kita pun bernyanyi, diiringi barzanji yang melantun dari mulut gadis-gadis kampung yang molek. Rampak pukulan kompang dari tangan-tangan pemuda yang belia, akan semakin menggetarkan jiwa kita, bahwa saat itu, dunia menjadi milik kita berdua. Tunggulah, sayang. Abang akan pulang….”

Bibir Suri tak pernah bisa berhenti untuk terus membaca sekeping surat lusuh di tangannya. Surat pertama yang ia terima, seminggu setelah kepergian kekasihnya, sampai kini setelah genap tujuh bulan, surat yang lain tak kunjung datang. Suri menanti, sembari terus membaca surat pertama berkali-kali. Suri menanti, sembari merasak…

NASSER

31 Agus 2008, Jawa Pos
D. Zawawi Imron

Orang Indonesia yang berkunjung ke Kairo, Mesir, konon dianggap belum sempurna kalau tidak makan burung dara goreng di tepian Sungai Nil. Bagi orang yang tidak suka burung dara seperti saya, memandang permukaan Sungai Nil yang berpendar-pendar oleh bayang-bayang lampu dari rumah-rumah dan jalan-jalan di seberang sungai pada malam hari, sudah merasa terhibur. Ada suasana tenteram yang menyelinap ke dalam kalbu. Inilah sungai yang membelah Kota Kairo, yang sudah punya sejarah dan peradaban sejak 600 tahun lalu, dengan piramid, lukisan-lukisan mitologi, serta mummi jasad Pharao yang bertahan ribuan tahun.

Sungai Nil terus mengalir sepanjang waktu menghidupi penduduk yang bermukim pada sepanjang kedua tepiannya. Di situlah gandum, anggur, kurma, dan sayur-sayuran bisa ditanam sampai sejauh 10 atau 20 kilometer dari Sungai Nil. Sehingga betul bila ada orang bilang, kalau Sungai Nil kering akan laparlah separo rakyat Mesir.

Memandang Sungai Nil saya jadi i…

Tangga Malam Seribu Bulan

dijumput dari Jawa Pos,14 Sep 2008

Rasa lapar dan dahaga di siang hari pada bulan Ramadan bukanlah alasan bagi umat Islam untuk bermalas-malasan. Baginda Rasul bahkan mengajarkan bagaimana Ramadan mesti dipergunakan sebagai kesempatan emas guna menambah perbendaharaan saldo pahala, baik yang bersumber dari ibadah maupun hasil bekerja keras saat mencari rezeki dan berjuang di jalan Allah.

Sejumlah peristiwa bersejarah menggambarkan bahwa Muhammad SAW menjalani Ramadan dengan tanpa lelah mengomando para pejuang Islam untuk berjihad menyebarkan Islam dan menumpas kemungkaran. Serentetan peperangan yang dilakukan Rasul dan kaum muslim kala itu justru terjadi pada bulan penuh berkah ini. Kemenangan dalam peperangan terbesar umat Islam, yakni Perang Badar berlangsung pada 17 Ramadan di tahun kedua Hijriyah.

Penaklukan Kota Mekkah (Fathu Makkah) yang dilukiskan dalam surah An-Nashr, terjadi pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriyah. Dan, 84 tahun setelah itu, tepatnya pada 18 Ramadan 92 H kaum muslimin …

MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=72

“Untuk mengada, kita tidak hanya mendapat jatah tempat. Kita juga punya rentang waktu yang sudah ditetapkan.” (Jostein Gaarder).

Pun bagaimana, dunia diciptakan melewati pengadaan, semisal mengawali tulisan yang menggelora. Segala yang terbentang kemudian, ternyata bukan endapan dalam, juga tidak sedari rentetan panjang penalaran. Kadang keseluruan mendadak meloncat dari fikiran-perasaan yang sempat terbangun, yang tidak sanggup mengikuti gerakan peredarannya. Semua mengarus entah dinamai mengada, atau tidak masuk akal. Jelasnya, penambahan tiba-tiba itu tidak adanya suatu tingkat penurunan dalam. Tarian tidak pernah direncanakan, membumbung memusar bersama angin menaikkan daun-daun harapan, menuju jarak lebih tinggi tiada perhitungan. Kecuali kejadian yang sama, dapat menilai balik atas apa yang terbangun itu.

Andai diendapkan secara logis pemikiran awalnya, pun terketahui dapat dihitung melalui penalaran. Tidakkah seluruhnya berpijak d…

Misteri Keislaman Obama

disaruk dari Jawa Pos, 21 Sep 2008
Judul Buku: Obama Tentang Israel, Islam dan Amerika
Penulis: Tim Hikmah
Penerbit: Hikmah, Jakarta
Cetakan: II, April 2008
Tebal: xx + 281 hal

Pidato Barack Obama, calon presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat, di Ivesco Field, Denver 28 Agustus lalu itu disaksikan sekitar 84.000 anggota delegasi plus jutaan penduduk AS dan dunia lewat layar televisi. Senator Obama yang mewakili negara bagian Illinois dan calon presiden dari Partai Demokrat menyampaikan program-programnya. Di antaranya tentang potongan pajak untuk 95 persen keluarga buruh, penarikan pasukan dari Irak dalam waktu 16 bulan, melepaskan ketergantungan minyak dari Timur Tengah dalam 10 tahun, dan menciptakan lima juta lowongan pekerjaan dalam 10 tahun di sektor energi terbarukan melalui investasi USD 150 miliar.

Di balik gegap gempita dukungan terhadap Obama, tentu masih banyak isu yang menyudutkan Obama berkaitan dengan isu-isu ras dan agama. Dalam buku ini, pembaca akan menemukan banyak…

Potret Kegagalan Pemimpin Indonesia

Judul Buku : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia
Penulis : Ishak Rafick
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xx + 422 Halaman
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Bung Karno pernah mengungkap, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kalimat itu perlu dihadirkan terus-menerus dalam helat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Negara ini bisa bangkit maju, keluar dari belitan masalah, tentu tak luput dari pembacaan sejarah kegagalan dari lima pemimpin Indonesia.

Bermula pada bulan Juli 1997, ditengarai awal munculnya krisis moneter (krismon) yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengempis terhadap US$. Keadaan itu membikin khawatir banyak orang. Pelaku bisnis yang sebelumnya mengandalkan utang luar negeri, berubah makhluk yang paling cemas. Sebab setelah kekuatan intervensi ditambah, nilai rupiah langsung masuk ke jurang yang semakin lebar.

Keadaan itu, mendesak para pengamat ekonom…

Sajak-Sajak Mashuri

Junub

ketika kesakitanku beku, kau sungaikan arak
berarak ke sukmaku; masihkah retak jiwa teraba
saat degup kumparkan junub ---dibasuh lenguh
kelamin; lalu hulu berbiak, menjalar ke bebukit
hingga mata, telinga dan kulit guratkan celah
terpurba; khayali, di sepanjang usia
meski terpangkas, berbias; menyemut di asa
dilambangkan lingga
tapi seluruh pintu tuju sementara
serupa burung terhapus dari kurungan ---serupa kau
beryoni, di tepi hari, hati, langgengkan nisbi
di batas; saat nafas pun tak kunjung sampai
kuingat siti, tapi ia ‘lah jauh melenggang ke bebukit
Padang; kuingat sri, tapi ia amsal pepadian
haruskan kubaptis kembali diri, kau ---bak magda
diumpankan segala derita; basuh kaki
dengan air mata; sampai kebutaan melambai
di rindu, tugurkan batu di kalbu; hingga pantai pun
susut batas: antara laut dan darat
pasir pun mencatat desir ---keberadaanmu
tersesat di belukar; muasal ingkar
tapi aku tak melupa pada rupa ---juga kau
sekuntum rekah; kelopak mungil terenda
bianglala; saat sumir gerimis terjelma da…

Kematian Gandhi dan Masa Depan Perdamaian

Gugun El-Guyanie

MOHANDAS Karamchand Gandhi (Mahatma, yang berati "Jiwa Yang Agung", sebagai julukan kehormatan), seorang bocah terlahir di tengah peradaban India yang masih tercengkeram kolonialisme dan imperialisme Barat.

Latar belakang sejarah yang penuh pergolakan, pertumpahan darah dan penjajahan hak-hak sesama manusia, menjadikan Gandhi dewasa menolak bertekuk lutut menyerah pada penjajah yang zalim. Namun, semenjak meninggalnya pada 30 Januari 1948, tubuhnya yang dihantam bom rakitan pengikutnya dari Hindu fundamentalis, dunia seakan sulit melahirkan tokoh yang sebanding dengan Gandhi.

Ahimsa, sebuah prinsip perlawanan Gandhi dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan dengan tetap antikekerasan, pada konteks kekinian patut kita refleksikan kembali. Abad modern yang bergelimang dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan misi hidup mulia Gandhi semakin terasing.

Setengah abad setelah si tubuh ringkih itu meninggalkan dunia mayapada ini, perdamaian…

Puisi-Puisi Denny Mizhar

GENERASI CATWALK

Lenggak-lenggok diatas permadani kehidupan
Gemerlapan aksesoris melekat pada tubuh moleknya
Menawarkan pesona keindahan yang mengundang hasrat
Itulah wajah generasiku!

Generasiku…
Generasi mode

Generasiku…
Generasi catwalk

Di sudut gang, di ujung jalan
Menari-nari tebar pesona harumnya trend
Di kotak kaca, digemerlapnya malam
Ramai generasi catwalk

Generasi mewah penuh kemapanan!

Lamongan, September 2006



HIBURAN MALAM

Suara gendang berkumandang
Lupakan derita sementara

Petikan melodi gitar
Hibur hati yang lara

Berjoged tuk lepaskan sesaknya kehidupan
Wajah riang bergandengan tanggan lupakan perselisihan

Menari dan bernyanyi dalam hiburan malam
Andai saja hidup selalu begini?

Malang, Januari 2007



PERJUMPAAN

Jagat maya menghampiri anak manusia, meruang didalamnya
Berkisah akan laku hidup yang meninggalkan jejak luka nan canda

Inilah kisah perjumpaan maya anak manusia meninggalkan tanya nyata,
Pada labirin-labirin yang asing tak nyata

Malang, 5 Agustus 2007

DARI UJUNG KE UJUNG

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

Tak bisa diduga, berapa lama dia berada di ujung jalan. Andaikata terdapat seseorang yang menyapa, apa yang harus dikatakannya? Andaikata terdapat seseorang yang menduga, haruskah dia selonjorkan menit-menit yang berharga, buat secuap jawab tanpa makna? Namun demikian, pada hari yang penuh berlumur gula, sepatutnya dia kembali meraih penunjuk jalan yang mengarahkan orang pada jalur yang tepat – di kala segalanya masih remang dalam rabaan.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com